Sulawesi

Warna Warni Sulawesi

Archive for the category “society”

Tari Paraga dan Pulau Samalona

Pada tanggal 11 November 2013 kami diundang oleh Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan untuk mengikuti acara Jelalah pulau Spermonde 2013. disana kami disuguhi dengan tari Paraga yaitu tari Tradisional Makassar, berikut beberapa gambarnya.

Penari Tari Paraga

Tari Paraga

Tari Pagara 1 2 3

 

sekian dan terima kasih ūüôā

Advertisements

Berwisata Komplit di Makassar

Makassar sebagai gerbang utama wilayah Indonesia Timur memiliki beragam obyek wisata yang terdiri dari wisata bahari, wisata budaya dan wisata sejarah. Tak ingin ketinggalan dalam tour kali ini, yuk kita jelajahi setiap keindahannya.

Pulau Panambungan

   

   Jika dibandingkan dengan Pulau Kayangan atau Pulau Samalona, nama Pulau Panambungan mungkin tidak begitu familiar di telinga wisatawan. Namun, di sinilah salah satu letak kelebihan pulau yang yang mempunyai luas 170 x 100 m2 ini. Keindahan dan keberadaannya yang belum banyak terjamah, menjadikan pulau ini tetap mempertahankan keasriannya.

Pulau dengan hamparan pasir di sekelilingnya ini dapat dicapai dengan menggunakan boat selama 45 menit. Pulau yang dikelola oleh salah satu hotel besar di Makassar ini mulai  beroperasi sejak tahun 2008 dengan penawaran fasilitas lengkap, mulai dari restoran hingga berbagai aktivitas menarik. Setiap tamu dapat melakukan snorkeling untuk menikmati keindahan coral-coral dan berbagai spesies ikan yang hidup di sekitar pulau. Fasilitas ini sudah termasuk dalam paket dari hotel yang berarti pengunjung dapat menggunakan snorkeling dengan gratis selama berada di Pulau Panambungan.

Bagi pengunjung yang menyukai kegiatan yang memacu adrenalin, dapat mencoba Flying Fox dari ketinggian 10 meter. Bukan hanya itu, pengunjung juga bisa ber-jet ski ria mengelilingi pulau. Untuk jet ski ini, pihak pengelola menyediakan tarif penyewaan mulai dari Rp 125.000 per 15 menit hingga Rp 400.000 untuk pemakaian satu jam.

Untuk masyarakat yang tertarik untuk menghabiskan akhir pekan di Pulau Panambungan, dapat memilih paket akhir pekan yang telah disediakan oleh pihak pengelola, yaitu Rp. 400.000 per orang untuk pemesanan minimal 10 orang dan Rp 300.000 per orang untuk pemesanan minimal 20 orang. Paket ini sudah termasuk biaya transportasi pergi dan pulang dengan menggunakan executive yacht (Kapal Trinisah), juga biaya masuk pulau dan makan siang bagi setiap pengunjung.

Masjid Al-Markaz

Setelah puas berjalan-jalan di hamparan pasir putih, tak ada salahnya Anda mengistirahatkan diri sejenak sembari mengagumi arsitektur bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini merupakan tempat ibadah dan pusat pengembangan agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Masjid Al-Markaz Al-Islami memiliki lima menara yang salah satu diantaranya menjulang hingga ketinggian 87 meter. Di puncak menara yang terselubung dengan batu granit, terpasang loudspeaker yang dirancang oleh tenaga ahli audio dari Jepang agar kumandang adzan dapat terdengar sampai kejauhan.

Masjid Al Markaz yang berdiri 12 Januari 1996 atau 27 Syaban 1416 H, terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari batu granit. Ide awal muncul di tahun 1989, dimana waktu itu almarhum Jenderal M. Jusuf sebagai Amirul Hajj menyampaikan gagasan untuk mendirikan mesjid yang monumental di Ujung Pandang (kini Makasar) kepada sejumlah tokoh. Mesjid Al-Markaz dirancang oleh Ir. Ahmad Nu’man sebagai konsultan perencana dan pengawas yang juga merupakan direktur salah satu perusahaan di Bandung.

Arsitektur mesjid ini dikiblatkan pada Mesjid Haram Makka Al Mukarramah dan Mesjid Nabawi Madina Al Munawwarah dengan memasukkan unsur arsitektur Mesjid Katangka, Gowa, dan Rumah Bugis Makassar yaitu tidak memiliki kubah (atap bundar), tetapi kuncup segi empat, meniru kuncup Mesjid Katangka dan Rumah Bugis. Pembangunan mesjid di atas lahan kompleks seluas kurang lebih 10 ha yang terletak di pusat kota ini, memakan biaya sebesar 14 M dengan waktu pengerjaan selama 17 bulan.

Pelabuhan Paotere’

Di bagian utara Kota Makassar terdapat pelabuhan perahu bernama Paotere. Salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14 saat memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka. Pelabuhan Paotere sekarang ini masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat, seperti Phinisi dan Lambo, dan juga menjadi pusat niaga nelayan.

Selain aktivitas niaga nelayan yang nampak setiap harinya di pelabuhan ini, tak jarang pula kita temui aktivitas para fotografer yang ingin mengabadikan keindahan Phinisi, berikut para nelayannya dengan background sunset yang merah keemasan. Tentu ini merupakan tawaran yang menarik bagi para wisatawan yang gemar dengan gambar statis. Selesai hunting foto, tentu perut terasa lapar. Jangan khawatir, karena di sekitar Paotere’ berjejer rumah makan yang menyajikan olahan ikan segar hasil tangkapan para nelayan yang dipadu dengan sambal cobe’ khas Makassar.

Benteng Somba Opu

Jika ingin mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan dari bangunan tradisional, Anda dapat mendatangi benteng Somba Opu yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa abad XV. Di kompleks ini, Anda akan mendapati replika bangunan tradisional tiap suku yang ada di Sulsel. Selain itu, di sini juga terdapat sebuah benteng yang menjadi daya tarik utama. Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa‚Äėrisi‚Äė Kallonna (1510-1546). Tujuan Sultan Kallonna membangun benteng ini adalah sebagai media pertahanan wilayah Kesultanan Gowa dari serangan Hindia Belanda (VOC) dan Portugis.

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7-8 meter, luas sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. Ketika dibangun pertama kali pada tahun 1525, bahan dasar pembuatan benteng adalah tanah liat, namun kemudian pada pemerintahan Sultan Gowa XI, benteng ini direnovasi dengan menggunakan batu bata.

Seperti halnya Benteng Fort Rotterdam, bentuk benteng ini mirip penyu jika dilihat dari pemukaan yang lebih tinggi. Di benteng ini pula ditempatkan sebuah meriam yang amat dahsyat, yang pernah dimiliki oleh Indonesia yakni Meriam ‚ÄúAnak Makassar‚ÄĚ yang berbobot 9.500 kilogram dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 centimeter.

Jalan Somba Opu

Setelah puas bersnorkeling di Pulau Panambungan, mengintip arsitektur Masjid Al-Markaz, berfoto-foto di Paotere’ dan menelusuri Benteng Somba Opu, kini saatnya, untuk membawakan cendera mata buat keluarga di rumah. Tak perlu khawatir akan benda unik apa yang akan menjadi hadiah kejutan bagi orang tersayang yang menunggu di rumah, karena salah satu jalan di Makassar menyediakan itu semua. Di sepanjang Jalan Somba Opu tersedia berbagai jenis souvenir dan oleh-oleh dengan harga yang cocok untuk kantong Anda.

Makassar terkenal sebagai kota tempat jajanan kue dan kacang.
Selain jajanan-jajanan itu, di Jalan Somba Opu ini juga terdapat toko yang menjual minyak gosok khas Makassar. Tak kalah nikmatnya adalah berbagai manisan dan dodol, mulai dari manisan pala, manisan asam hingga dodol salak. Seluruhnya ini dapat Anda bawa pulang dengan harga tak lebih dari Rp 20.000.

Selain jajanan, Makassar juga terkenal dengan berbagai souvenir yang tentunya ingin Anda bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mulai dari kerajinan anyaman dari bambu hingga patung kecil berbentuk tarsius dapat Anda temui di sini. Toko-toko di jalan ini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga berbagai souvenir hingga perhiasaan emas.

Selain anyaman bambu, juga terdapat untaian kerang yang dibuat menjadi berbagai hiasan. Kerang-kerang ini berasal dari perairan Makassar yang memang terkenal dengan biota lautnya. Anda tak perlu jauh-jauh pergi ke Bunaken untuk memperoleh kerajinan yang sangat indah ini, Anda cukup berjalan menuju toko-toko souvenir, maka kerajinan ini dapat ditemui. Jadi, tunggu apa lagi? Segera langkahkan kaki Anda ke Makassar dan nikmati kesenangannya.

Berlayar Melintasi Panorama Selayar

Terletak di Ujung Selatan Pulau Celebes, tak berarti jauh dari jangkauan wisatawan. Kabupaten Selayar yang mempunyai luas 903,35 km2  menyimpan sejuta keindahan bahkan tercatat sebagai rekor dunia.   

This slideshow requires JavaScript.

 

Taman Nasional Laut Taka Bonerate sebagai Rekor Dunia

Selain keindahan laut Bunaken  yang tersohor sampai ke pelosok dunia, terdapat pula keindahan alam lainnya yang tak kalah terkenal. Taman Nasional Laut (TNL) Taka Bonerate yang mempunyai luas 220.000 hektar ini merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Tak heran jika Taman Laut yang terletak di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pasimaranu dan Kecamatan Pasimasunggu, Kabupaten Selayar ini dijadikan arena rekreasi, penelitian, pendidikan dan pembudidayaan.

TNL Taka Bonerate termasuk salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Kawasan Indonesia Timur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.  280/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992. Di kawasan ini terdapat sekitar 21 pulau, 6 buah diantaranya dihuni oleh penduduk sebanyak kurang lebih 5.101 jiwa. Sebagai karang atol terbesar ketiga di dunia, secara topografi, sebagian besar  pulau tersebut merupakan atol (pulau karang yang berbentuk lingkaran) dengan konfigurasi pasir putih. Atol tersebut dikelilingi oleh air laut berwarna biru pekat yang merupakan perairan yang cukup dalam (+/- 1.500 meter) dan terjal. Pada saat air surut terendah, bagian permukaan terumbu tampak seperti daratan yang membentuk kolam-kolam kecil yang digenangi air. Temperatur udara di kawasan ini berkisar antara 28,5-32 0  celsius dan waktu kunjungan yang paling baik adalah pada bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember.

Kawasan TNL Taka Bonerate sangat cocok untuk berenang, berjemur (sunbathing), memancing (fishing), berperahu (sailing) dan snorkling. Selain itu, kawasan ini juga sangat cocok untuk menyelam (diving) sehingga pengunjung dapat menikmati panorama alam bawah laut yang mempesona. Di alam bawah laut tersebut, pengunjung juga dapat menyaksikan ratusan jenis terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh serta beraneka ragam biota laut diantaranya; jenis ikan karang yang indah dan ikan konsumsi (kerapu, tenggiri, cakalang dan lain-lain); jenis molusca dari klas gastropoda (lola kerang kepala kambing,triton); jenis klas bivalvia (kima, kerang mutiara, cumi-cumi, dan gurita); jenis penyu (penyu hijau, penyu sisik , penyu tempayam, dan penyu lekang); dan jenis echinodermata (teripang, bintang laut, lili laut, dan bulu babi).

Selain keindahan alam bawah laut, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai jenis flora  yang tumbuh hijau di sepanjang pantai, seperti tumbuhan kelapa, pandan laut, cemara laut, ketapang, dan waru laut. Keindahan Sunset di Taka Bonerate merupakan satu hal yang tidak boleh dilewatkan.

Kejernihan yang Berpadu Putihnya Pantai Baloiya

Selain kaya dengan biota lautnya, Kabupaten Selayar juga terkenal dengan keindahan pantainya. Gugusan pantai yang sebagian besar dihiasi dengan pasir putih itu, membentang dari ujung utara hingga ke selatan kabupaten kepulauan tersebut. Salah satu dari sekian banyak pantai yang menyimpan pesona alam pantai yang menggairahkan, yakni pantai Baloiya, letaknya sekitar 9 km arah selatan ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, Benteng, tepatnya dalam wilayah Kecamatan Bontosikuyu.

Salah satu yang menjadi daya tarik dari tempat ini adalah hamparan pasir putihnya yang bersih yang semakin indah dengan paduan air laut yang jernih dengan pemandangan lalu lintas ikan yang tampak jelas terlihat oleh mata telanjang. Tak hanya ikan yang senang berlalu lalang di sekitar Pantai Bailoya, karena di sekitar pantai tak jarang kita menemui wisatawan yang tak hanya berenang namun juga menyelami kesejukan air Bailoya tanpa terganggu oleh sampah atau kotoran yang sering kita temui di pantai lainnya.

Tak hanya sampai di situ, Baloiya juga menyimpan keindahan lain berupa goa alam dan pulau kecil. Juga tak ketinggalan, karang-karang besar yang berdiri kokoh di beberapa ruas pantai. Tak terlalu sulit untuk ke Baloiya. Sebab jaraknya hanya sekira 9 km dari Kota Benteng serta bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Waktu tempuh dari Benteng, paling lama 30 menit.

 

Baloiya sendiri hingga kini menjadi pilihan rekreasi warga Selayar dan sejumlah warga dari Bulukumba, serta Sinjai. Keindahan alamnya membuat warga Selayar kerap menjadikan Baloiya sebagai tempat rekreasi akhir pekan. Saat hari Minggu, sejak pagi hingga petang, sepanjang pantai Baloiya tak pernah sepi. Selain sejumlah anak muda yang datang untuk sekadar cuci mata atau jalan bersama teman-temannya, ada pula rombongan keluarga yang tak jarang membawa anak balitanya dengan perlengkapan lainnya seperti tikar atau tenda yang dilengkapi dengan varian makanan untuk bersantap di bawah temaram sinar matahari yang menembus sela daun pepohonan.

Hikayat Gong Nekara

The Bronze drum. Bagi orang awam, kalimat ini mungkin sangat asing. Namun saat berkunjung ke Gong Nekara, semua akan menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah gong nekara. Mengunjungi Gong Nekara, bukanlah hal sulit. Pasalnya, tempat nekara ini hanya kira-kira 3 km dari ibukota Selayar, Benteng. Bukan itu saja, letaknya di Matalalang, Kelurahan Bontobangung juga hanya beberapa meter dari jalan raya.

Karena posisinya yang strategis dan terbuka, Gong Nekara ini banyak dikunjungi dan menjadi salah satu objek wisata. Nekara Selayar terbuat dari logam perunggu yang saat ini tersimpan di daerah Bonto Bangun (Matalalang). Nekara ini merupakan nekara yang besar dan indah dengan ukuran tinggi 92 cm dan garis tengah bidang pukul berukuran 126 cm.

Seluruh permukaan bidang atas dihiasi dengan pola hias geometris. Di bagian tengah dihiasi dengan pola hias bintang bersudut 16 dan di tepinya terdapat hiasan berbentuk 4 ekor katak, yang masing-masing panjangnya 20 cm dengan badan bergaris-garis dan mata tersembul ke atas, juga hiasan burung merak sedang berdiri ataupun sedang berjalan.

Menurut informasi dari penduduk setempat, ada dua nekara (Gong), yaitu sebuah di Selayar dan sebuah lagi berada di Cina. Nekara yang ada di Selayar dianggap sebagai suami dan yang ada di Cina sebagai isteri. Hal ini mengingatkan kita pada nekara yang dipuja berpasangan di daerah Birma yang dipersonifikasikan sebagai pasangan suami isteri. Nekara yang di atasnya terdapat hiasan katak berukuran lebih tinggi melambangkan pria, sedangkan yang tidak memakai hiasan katak dan berukuran lebih kecil dan rendah melambangkan wanita. Dengan demikian nampak adanya persamaan nilai simbolis dari pendukung kebudayaan perunggu khususnya nekara di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dari hasil penelitian, Nekara berfungsi sebagai sarana pemanggil hujan, saran untuk upacara-upacara perang, upacara penobatan seorang pemimpin masyarakat, upacara mengusir wabah penyakit dan lain-lain.

 

Petunjuk Tumanurung dalam Tarian Pakarena Gantarang

Jika di Toraja, ditemukan Tari pa’gellu, di Selayar, kita akan menemukan Tari Pakarena Gantarang yang merupakan tarian khas pulau ini. Sesuai dengan namanya, tari ini berasal dari perkampungan bernama Gantarang Lalang Bata. Tak ada catatan yang menjelaskan tentang sejarah terbentuknya tarian ini yang jelas tarian ini pertama kali ditampilkan pada awal abad ke 17.

Kemunculan pertama tarian ini erat kaitannya dengan legenda Tumanurung, seorang bidadari yang turun dari langit untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk-petunjuk dari sang bidadari inilah yang kemudian menjadi simbol dari tiap gerakan sang penari Pakarena Gantarang yang umumnya terdiri dari empat wanita.

Gerakannya menyiratkan simbol dengan nilai artistik tinggi, yang antara lain mengungkapkan undangan atau panggilan, serta penolakan atau penerimaan Raja terhadap aspirasi rakyatnya. Alat musik pengiring dari Tari Pakarena Gantarang adalah, gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tari Pakarena Gantarang mulai populer di Gantarang pada tahun 1603, ketika ditampilkan pada saat penobatan Raja Pangali Patta Raja. ¬†(Sumber: Berbagai Sumber)

 

Beberapa Obyek Wisata Lainnya:

Pa’ba’dilang

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene

Gusung

Gusung adalah salah satu pulau yang dekat dengan pulau terbesar Selayar yaitu pulau Selayar. Pulau yang biasa juga disebut sebagai Pulau Pasi dan memiliki beberapa pantai.

 

Talloiya

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene, terletak di sebelah barat Desa, dekat dengan ujung paling utara Pulau Selayar

Je’neiya

Je’neiya adalah salah satu pantai di bagian barat Pulau Pasi (Gusung)

Appatanah

Appatanah atau ujung tanah merujuk pada ujung paling selatan Pulau Selayar, memiliki beberapa pantai dengan kemilau pasir putih.

Jammeng

Jammeng terletak di sebelah timur Pulau Selayar, dan masuk dalam wilayah Desa Laiyolo Baru, Kec. Bontisikiyu

Rampang-rampangang

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene

Sumber: SelayarOnline.com

 

 

 

 

 

Genk Pengemis Kota Makassar

Berikut ini beberapa foto Pengemis disekitar Kota Makassar

AR015948

AR015946

AR015945

Jalan jalan ke Kota Palopo Sulawesi Selatan

Berikut ini bebearapa foto Jalan jalan di Kota Palopo

Palopo 2

Kapurung Makanan Khas Palopo

IMG_0327

IMG_0247

IMG_0166

IMG_0102

IMG_0079

IMG_0057

IMG_0040

IMG_0038

Post Navigation