Sulawesi

Warna Warni Sulawesi

Archive for the category “hiburan”

Berwisata Komplit di Makassar

Makassar sebagai gerbang utama wilayah Indonesia Timur memiliki beragam obyek wisata yang terdiri dari wisata bahari, wisata budaya dan wisata sejarah. Tak ingin ketinggalan dalam tour kali ini, yuk kita jelajahi setiap keindahannya.

Pulau Panambungan

   

   Jika dibandingkan dengan Pulau Kayangan atau Pulau Samalona, nama Pulau Panambungan mungkin tidak begitu familiar di telinga wisatawan. Namun, di sinilah salah satu letak kelebihan pulau yang yang mempunyai luas 170 x 100 m2 ini. Keindahan dan keberadaannya yang belum banyak terjamah, menjadikan pulau ini tetap mempertahankan keasriannya.

Pulau dengan hamparan pasir di sekelilingnya ini dapat dicapai dengan menggunakan boat selama 45 menit. Pulau yang dikelola oleh salah satu hotel besar di Makassar ini mulai  beroperasi sejak tahun 2008 dengan penawaran fasilitas lengkap, mulai dari restoran hingga berbagai aktivitas menarik. Setiap tamu dapat melakukan snorkeling untuk menikmati keindahan coral-coral dan berbagai spesies ikan yang hidup di sekitar pulau. Fasilitas ini sudah termasuk dalam paket dari hotel yang berarti pengunjung dapat menggunakan snorkeling dengan gratis selama berada di Pulau Panambungan.

Bagi pengunjung yang menyukai kegiatan yang memacu adrenalin, dapat mencoba Flying Fox dari ketinggian 10 meter. Bukan hanya itu, pengunjung juga bisa ber-jet ski ria mengelilingi pulau. Untuk jet ski ini, pihak pengelola menyediakan tarif penyewaan mulai dari Rp 125.000 per 15 menit hingga Rp 400.000 untuk pemakaian satu jam.

Untuk masyarakat yang tertarik untuk menghabiskan akhir pekan di Pulau Panambungan, dapat memilih paket akhir pekan yang telah disediakan oleh pihak pengelola, yaitu Rp. 400.000 per orang untuk pemesanan minimal 10 orang dan Rp 300.000 per orang untuk pemesanan minimal 20 orang. Paket ini sudah termasuk biaya transportasi pergi dan pulang dengan menggunakan executive yacht (Kapal Trinisah), juga biaya masuk pulau dan makan siang bagi setiap pengunjung.

Masjid Al-Markaz

Setelah puas berjalan-jalan di hamparan pasir putih, tak ada salahnya Anda mengistirahatkan diri sejenak sembari mengagumi arsitektur bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini merupakan tempat ibadah dan pusat pengembangan agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Masjid Al-Markaz Al-Islami memiliki lima menara yang salah satu diantaranya menjulang hingga ketinggian 87 meter. Di puncak menara yang terselubung dengan batu granit, terpasang loudspeaker yang dirancang oleh tenaga ahli audio dari Jepang agar kumandang adzan dapat terdengar sampai kejauhan.

Masjid Al Markaz yang berdiri 12 Januari 1996 atau 27 Syaban 1416 H, terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari batu granit. Ide awal muncul di tahun 1989, dimana waktu itu almarhum Jenderal M. Jusuf sebagai Amirul Hajj menyampaikan gagasan untuk mendirikan mesjid yang monumental di Ujung Pandang (kini Makasar) kepada sejumlah tokoh. Mesjid Al-Markaz dirancang oleh Ir. Ahmad Nu’man sebagai konsultan perencana dan pengawas yang juga merupakan direktur salah satu perusahaan di Bandung.

Arsitektur mesjid ini dikiblatkan pada Mesjid Haram Makka Al Mukarramah dan Mesjid Nabawi Madina Al Munawwarah dengan memasukkan unsur arsitektur Mesjid Katangka, Gowa, dan Rumah Bugis Makassar yaitu tidak memiliki kubah (atap bundar), tetapi kuncup segi empat, meniru kuncup Mesjid Katangka dan Rumah Bugis. Pembangunan mesjid di atas lahan kompleks seluas kurang lebih 10 ha yang terletak di pusat kota ini, memakan biaya sebesar 14 M dengan waktu pengerjaan selama 17 bulan.

Pelabuhan Paotere’

Di bagian utara Kota Makassar terdapat pelabuhan perahu bernama Paotere. Salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14 saat memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka. Pelabuhan Paotere sekarang ini masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat, seperti Phinisi dan Lambo, dan juga menjadi pusat niaga nelayan.

Selain aktivitas niaga nelayan yang nampak setiap harinya di pelabuhan ini, tak jarang pula kita temui aktivitas para fotografer yang ingin mengabadikan keindahan Phinisi, berikut para nelayannya dengan background sunset yang merah keemasan. Tentu ini merupakan tawaran yang menarik bagi para wisatawan yang gemar dengan gambar statis. Selesai hunting foto, tentu perut terasa lapar. Jangan khawatir, karena di sekitar Paotere’ berjejer rumah makan yang menyajikan olahan ikan segar hasil tangkapan para nelayan yang dipadu dengan sambal cobe’ khas Makassar.

Benteng Somba Opu

Jika ingin mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan dari bangunan tradisional, Anda dapat mendatangi benteng Somba Opu yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa abad XV. Di kompleks ini, Anda akan mendapati replika bangunan tradisional tiap suku yang ada di Sulsel. Selain itu, di sini juga terdapat sebuah benteng yang menjadi daya tarik utama. Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna (1510-1546). Tujuan Sultan Kallonna membangun benteng ini adalah sebagai media pertahanan wilayah Kesultanan Gowa dari serangan Hindia Belanda (VOC) dan Portugis.

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7-8 meter, luas sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. Ketika dibangun pertama kali pada tahun 1525, bahan dasar pembuatan benteng adalah tanah liat, namun kemudian pada pemerintahan Sultan Gowa XI, benteng ini direnovasi dengan menggunakan batu bata.

Seperti halnya Benteng Fort Rotterdam, bentuk benteng ini mirip penyu jika dilihat dari pemukaan yang lebih tinggi. Di benteng ini pula ditempatkan sebuah meriam yang amat dahsyat, yang pernah dimiliki oleh Indonesia yakni Meriam “Anak Makassar” yang berbobot 9.500 kilogram dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 centimeter.

Jalan Somba Opu

Setelah puas bersnorkeling di Pulau Panambungan, mengintip arsitektur Masjid Al-Markaz, berfoto-foto di Paotere’ dan menelusuri Benteng Somba Opu, kini saatnya, untuk membawakan cendera mata buat keluarga di rumah. Tak perlu khawatir akan benda unik apa yang akan menjadi hadiah kejutan bagi orang tersayang yang menunggu di rumah, karena salah satu jalan di Makassar menyediakan itu semua. Di sepanjang Jalan Somba Opu tersedia berbagai jenis souvenir dan oleh-oleh dengan harga yang cocok untuk kantong Anda.

Makassar terkenal sebagai kota tempat jajanan kue dan kacang.
Selain jajanan-jajanan itu, di Jalan Somba Opu ini juga terdapat toko yang menjual minyak gosok khas Makassar. Tak kalah nikmatnya adalah berbagai manisan dan dodol, mulai dari manisan pala, manisan asam hingga dodol salak. Seluruhnya ini dapat Anda bawa pulang dengan harga tak lebih dari Rp 20.000.

Selain jajanan, Makassar juga terkenal dengan berbagai souvenir yang tentunya ingin Anda bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mulai dari kerajinan anyaman dari bambu hingga patung kecil berbentuk tarsius dapat Anda temui di sini. Toko-toko di jalan ini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga berbagai souvenir hingga perhiasaan emas.

Selain anyaman bambu, juga terdapat untaian kerang yang dibuat menjadi berbagai hiasan. Kerang-kerang ini berasal dari perairan Makassar yang memang terkenal dengan biota lautnya. Anda tak perlu jauh-jauh pergi ke Bunaken untuk memperoleh kerajinan yang sangat indah ini, Anda cukup berjalan menuju toko-toko souvenir, maka kerajinan ini dapat ditemui. Jadi, tunggu apa lagi? Segera langkahkan kaki Anda ke Makassar dan nikmati kesenangannya.

Advertisements

Perpaduan Wisata Alam dan Budaya di Tanah Sinjai

Kabupaten Sinjai yang berjarak 223 km dari Ibukota Sulawesi Selatan menyimpan budaya historis yang kemudian menjadi alternatif obyek wisata selain wisata alam yang ada di Sinjai, bahkan  Taman Purbakala Batu Pake Gojeng menawarkan keduanya.

 

Benteng Balangnipa

Selain Fort Rotterdam dan Bentang Somba Opu, Benteng Balangnipa adalah salah satu benteng terbesar di Sulawesi Selatan, bentuknya pun hampir sama dengan Fort Rotterdam. Benteng Balangnipa terletak di Kel. Balangnipa, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai dengan jarak 1 km dari pusat kota.

Bentuk asli dari Benteng Balangnipa terbuat dari batu gunung yang diikat dengan lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding  Siwali reppa (setengah depa).  Kemegahan dan kekokohan Benteng Balangnipa dimulai sejak awal abad XVI sekitar tahun 1557 oleh kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) dengan bentuk dan struktur bangunan yang menghadap ke Utara dengan pemandangan Sungai Tangka yang bermuara antara Teluk Bone dengan pusat Kota Sinjai.

Benteng ini merupakan saksi sejarah perlawanan kerajaan Tellulimpoe dalam menentang agresi militer jajahan kaum kulit putih dalam sejarah perjuangan  terbesar yang dikenal dengan nama Rumpa’na Mangngara Bombang yang terjadi pada tahun 1859-1961.

Empat buah Bastion (pertahanan) yang membentuk segi empat oval merupakan salah satu alat perang yang digunakan oleh kerajan Tellulimpoe dalam menolak serangan Belanda. Namun ketidakseimbangan kekuatan dalam hal persenjataan menyebabkan Benteng Balangnipa berhasil direbut oleh pasukan Belanda pada tahun 1859.

Setelah Belanda berkuasa di wilayah persekutuan kerajaan Tellulimpoe, Benteng Balangnipa dijadikan sebagai markas pertahanan bagi Belanda untuk membendung serangan pribumi persekutuan kerajaan Telllulimpoe. Sebuah meriam perunggu yang panjangnya 96 cm merupakan jejak peninggalan Belanda di benteng ini.

Taman Purbakala Batu Pake Gojeng

       

Salah satu primadona wisata di Kabupaten Sinjai adalah taman purbakala Batu Pake Gojeng yang terletak di ketinggian 50-96 meter diatas permukaan laut, tepatnya di Kel. Biringere, Kec. Sinjai Utara, sekitar 2 km dari pusat kota Sinjai.

Batu Pake Gojeng merupakan batu pahatan yang berada di Gojeng dan dipercayai sebagai batu bertuah bagi masyarakat setempat. Puncak taman purbakala Batu Pake Gojeng merupakan markas pertahanan Jepang dan tempat pengintaian terhadap kapal laut yang melintasi teluk Bone maupun pesawat terbang sekutu.

 

Dari ketinggian ini, Anda bisa memandang jauh deretan Pulau Sembilan dengan jejeran hutan bakau Tongke-Tongke yang rimbun serta laut biru yang menghampar di atas terumbu karang Larea-rea.

Selain memiliki potensi objek wisata alam, Benteng Balangnipa juga mempunyai nilai histories tersendiri yang kaya akan warisan budaya khususnya bidang arkeologi. Pada tahun 1982, oleh Rescue Excavation, ditemukan berbagai jenis benda cagar budaya (BCB) seperti keramik, tembikar, sejumlah kecil fragment keramik blue underglass serta gigi buvidae yang diperkirakan dari zaman Dinasti Ming, fosil kayu dan peti mayat.

Masing-masing peninggalan ini, mewakili peninggalan pada zamannya masing-masing. Peninggalan Megalitik terbukti dengan adanya batu berlubang dengan diameter yang variatif antara 15-70 cm yang tersusun secara acak dan dikelilingi oleh sejumlah lubang kecil dan diapit oleh dua buah lubang besar. Terdapat pula bongkahan alami yang memiliki ukuran  yang bervariasi serta batu berpahat persegi yang merupakan titik pusat dari variasi batu berpahat lainnya dimana yang berukuran paling besar dipercayai sebagai makam raja-raja keturunan Raja Batu Pake Gojeng yang pertama.

Bukti peninggalan arkeologis ini telah dirapikan dan dijejer sepanjang jalan setapak sebanyak 120 buah anak tangga menuju bukit dan dijadikan lokasi obyek daya tarik wisata baik alam maupun budaya. Di dalam areal situs, berbagai pohon dapat kita jumpai seperti cemara (Casuarinas sp), kalumpang (Stercuilla), pohon cenrana yang sudah tua, kelapa (Cocos nucifera), kamboja (Plumera accuminata), akasia (Casia sp) serta bougenville (Bougenvillea spectabilis). Selain flora, terdapat pula berbagai jenis fauna khususnya bangsa burung seperti burung rajawali Sumatera, burung beo, burung nuri Kalimantan, burung kutilang, serta jenis burung lainnya.

Dalam mendukung kepariwisataan di lokasi ini pemerintah setempat telah melengkapi dengan sarana pendukung (caravanning sites) seperti renovasi rumah adat taman purbakala serta fasilitas lainnya seperti permandian yang telah tua yang diyakini sebagai tempat permandian para raja, refreshing kid dengan taman bermain anak-anak seperti ayunan dan luncuran.

Kampung Tradisional Karampuang

Kampung tradisional Karampuang terletak di desa Tompobulu Kec. Bulupoddo, kurang lebih 31 km dari pusat kota Sinjai, Karampuang merupakan asimilasi dari nama tempat dimana digambarkan sebagai pertemuan antara Karaeng (suku Makasar) dan Puang (suku Bugis). Sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama Karaeng Puang dan orang menyebutnya Karampuang.

Karampuang sendiri merupakan nama sebuah dusun/perkampungan tua yang tetap melestarikan kebudayaannya. Upacara-upacara adat ritual kuno tetap bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Walaupun saat ini teknologi dan pola hidup modern mulai merambah kawasan adat ini.

Dalam kawasan adat akan dijumpai dua buah rumah adat dengan berbagai simbol keberadaan sejarah bagi masyarakat Sinjai. Selain rumah adat akan ditemukan pula berbagai benda yang bernilai sejarah tinggi seperti Goa Cucukan yang berisi batu bertulis mirip prasasti, sumur adat, dolmen kuburan-kuburan kuno dan sumur Karampuang yang besar. Di kawasan ini pula diadakan pesta adat terbesar di Sinjai yaitu Mappogau Sihanua dimana di pesta ini dapat kita temui para pemuka adat Karampuang, aparatur pemerintah baik tingkat daerah maupun propinsi dan masyarakat umum.

Sebagai rumah adat yang bersimbol wanita, maka penempatan tangga rumah adat Karampuang terletak di tengah yang melambangkan rahim wanita yang merupakan tempat keluarnya bayi. Tangga ini mempunyai  pintu  yang disebut dengan batu lappa dengan pemberat dari batu  yang bundar yang menyimbolkan bagian intim wanita. Karena posisi pintu yang rata dengan lantai rumah maka untuk membukanya haruslah menolak ke atas untuk menggeser  pemberat batu tersebut.

Posisi dapur diletakkan sejajar posisi pintu yang memiliki simbol sebagai buah dada wanita  yang merupakan sumber kehidupan. Sesuai dengan buah dada wanita, dapur pada rumah adat Karampuang juga berjumlah dua buah.

Untuk simbol telinga wanita, dilengkapi dengan bate-bate kiri dan bate-bate kanan dengan hiasan ukiran kayu yang bermakna anting-anting sedang bagian bahu digambarkan dengan sonrong  yakni tangga yang ditinggikan dan diletakkan di depan rumah dan belakang yang difungsikan sebagai tempat tinggal penghuni. Sebagai tangan yang berfungsi untuk menggenggam maka sonrong bagian belakang rumah ditempatkan semua arajang yakni benda sakral, pelengkap adat.

Pantai Ujung Kupang

 

Terletak di Kecamatan Sinjai Timur sekitar 15 Km dari pusat kota Sinjai. Ujung kupang merupakan salah satu objek wisata yang berpantai pasir putih selain yang anda dapat jumpai di gugusan pulau sembilan. Objek ini juga bersebelahan langsung dengan gugusan pulau-pulau sembilan dan hutan bakau Tongke-Tongke.

Jejak pelabuhan  yang masih tertinggal di kawasan ini masih ada, seperti batu karang atau batu cadas di pinggir laut merupakan bekas pelabuhan dulu. Keindahan panorama alam ini tak luput dari sebuah bentukan alam dan keindahan biota laut yang penuh ragam warna dan bentuk.

Di tempat ini setiap tahunnya diadakan pesta rakyat Ma’rimpa Salo dimana kita dapat menyaksikan atraksi lomba perahu tradisional yang sarat akan makna syukur atas keberhasilan panen baik di darat maupun di laut. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk penangkapan ikan dengan cara menghalau ikan ke muara sungai dengan menggunakan ratusan perahu tradisional yang dilengkapi dengan jaring tradisional.

Air Terjun Tujuh Tingkat, Lembang Saukang   

           

 

Air terjun ini dinamakan air terjun tujuh tingkat karena memang memiliki keunikan tujuh tingkat dengan besar debit air dari atas yang berirama jatuh berulangkali sampai tujuh kali. Air terjun ini terletak di Desa Lembang Saukang Kec. Tellulimpoe sekitar 45 Km dari pusat kota Sinjai. Sesampainya di tempat ini, Anda akan disambut oleh riak-riak air yang pecah pada tujuh undakan besar yang dialiri oleh air bening nan segar dari hulu ke muara. Keindahan serta percikan air yang seirama dengan suara air terjun dapat Anda nikmati di atas jembatan gantung yang  terletak pas di depan air terjun dengan ketinggian 7 meter dari sungai dan panjang 30 meter.

Selain menikmati keindahan dan kesegaran air terjun, Anda juga dapat beragrowisata di kawasan ini. Durian ottong, rambutan, kedondong, jambu mete dan lengkeng adalah pilihan buah-buahan yang dapat Anda petik langsung dari pohonnya. Selain itu, contoh tanaman lain seperti coklat, vanili, merica bahkan petai akan menjadi pemandangan sepanjang jalan menuju air terjun tujuh tingkat.  Di sekitar kawasan air terjun ini terdapat vila bagi Anda yang ingin lebih lama menikmati keindahan alam air terjun tujuh tingkat Lembang Saukang.

Suasan Klenteng Agung Bahari Makassar

Berikut ini beberapa foto suasana Klenteng Agung Bahari Makassar yang diambil bertepatan dengan hari ulang tahunnya

Dewi Maco

_MG_4430

_MG_4366

_MG_4323

_MG_4314

Upacara Ritual HUT Dewi Maco

Umat Bersembahyang

Download CD Multimedia Profil Investasi Kota Makassar

Berikut ini link untuk download CD Multimedia Profil Investasi Kota Makassar, yang merupakan sisipan dari buku Profil Investasi Kota Makassar. isi dari CD ini dibuat dengan menggunakan Adobe Flash CS5.

Lihat Disini

Galery Foto Bukit kasih Sulawesi Utara

_DSC0325

Bukit Kasih terletak di Kabupaten Minahasa, Kecamatan Kawangkoan, tepatnya di kaki Gunung Soputan. Dari kota Manado dapat dicapai dengan kendaraan pribadi selama sekitar 1 jam. Jalannya berkelok-kelok dengan pemandangan teluk Manado disalah satu sisi jalan. Dari tempat ini, jika cuacanya cerah, akan memungkinkan kita melihat pemandangan yang sangat indah….

_DSC0320

_DSC0318

Dinamakan Bukit Kasih karena disana terdapat tempat-tempat ibadah saling berdekatan, simbol bahwa semua agama dapat hidup berdampingan dalam damai dan saling mengasihi. Ada gereja Katolik, gereja Kristen, Vihara, Mesjid, dan Pura. Di bagian bawahnya terdapat pahatan 2 kepala orang yang dianggap sebagai nenek moyang orang Minahasa. Pemahatnya didatangkan dari Pulau Dewata. Penduduk asli selalu mengingatkan anak-anak mereka dengan menceritakan asal usul nenek moyang mereka dan penyebarannya agar mereka tidak melupakan leluhurnya.

_DSC0309

_DSC0305

Tempat-tempat ibadah tsb. terletak di puncak bukit. Untuk mencapainya kita harus mendaki anak tangga. Awalnya masih ok karena jaraknya pendek-pendek, ada beberapa pos pemberhentian yang di hari-hari libur diisi oleh pedagang minuman. Total anak tangga adalah 2435. Setelah mendaki kurang lebih 1/4 bagian, sepertinya kaki mulai berat diangkat .. capek .. dan anak tangga jaraknya makin tinggi.

_DSC0300

_DSC0299

_DSC0295

_DSC0286
_DSC0284
_DSC0282

Menurut beberapa anak penjual jagung , kalau ada jeep pengangkut bahan makanan buat penjaga rumah ibadah, kami bisa ikut mereka. Tetapi melihat jalan setapak yang bener bener setapak dan jurang di sebelah kanannya dengan uap-uap belerang, banyak yang memilih jalan kaki saja … karena sepertinya lebih aman. Jika Anda pergi ke tempat ini…walaupun jalannya panjang dan berkelok-kelok, tetapi tak akan pernah terlupakan.

_DSC0291

_DSC0297

_DSC0296

Sumber Artikel : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1407358

Post Navigation