Sulawesi

Warna Warni Sulawesi

Pesona Niagara di Parangloe

Jika AS memiliki air terjun Niagara yang terkenal akan besarnya maka Parangloe memiliki air terjun bertingkat yang walaupun sama-sama memiliki keindahan tersendiri namun air terjun yang terletak di Gowa ini belum banyak dikenal oleh umum.  

Terbiasa bergelut dengan deadline serta seabrek urusan lainnya yang membuat kami memutuskan untuk melaksanakan wisata di hari libur untuk merefresh diri sebelum kembali bergelut dengan deadline.  Kecamatan Parangloe merupakan tempat yang kami pilih untuk meluluskan tujuan tersebut, melalui informasi dari seorang teman, kami mengetahui bahwa di kecamatan ini terdapat air terjun yang belum terjamah banyak orang dimana keindahannya tidak kalah dengan keindahan air terjun Bantimurung.

Persiapan pun dimulai, hari masih pagi saat kami berangkat menuju lokasi permandian yang oleh penduduk setempat disebut air terjun Bantimurung dua. Memasuki daerah air terjun, petualangan segera dimulai, jalanan yang tadinya mulus berganti dengan jalanan berbatu yang terjal. Beberapa kali saya harus turun dari kendaraan roda dua yang saya tumpangi demi untuk menjaga keeimbangan pengendara yang terlihat agak kesusahan melewati medan yang lumayan berat apalagi jalannya banyak yang menanjak. Di tengah perjalanan saya mengamati rimbun pepohonan yang masih belum terjamah, di sekeliling saya juga terdapat pohon pinus yang dibudidayakan. Kerimbunan ini, menyembunyikan sekawanan kera yang kadang terlihat melintas antara satu dahan ke dahan lainnya.

Dari pengamatan teman saya, di daerah ini terdapat binatang lain selain kera yang mungkin jarang kita temui di tempat wisata lainnya seperti, musang, kupu-kupu, bangau, bebek liar, ular, dan binatang kecil lainnya. Tak jarang tempat ini juga digunakan oleh pemburu untuk memburu babi hutan. Habitat alam sekitar air terjun yang masih perawan membuat  banyak binatang betah untuk tinggal disini. Mudah-mudahan, habitat asli ini tetap terjaga agar keindahan alam kita tetap lestari, ini peringatan buat para penebang liar dan pemburu liar.

Sibuk mengamati kehidupan liar, tak terasa tempat permadian air terjun yang terdiri dari tiga tingkat sudah dekat, terdengar dari suara deras air yang jatuh menimpa batu. Hanya satu kendaraan roda empat yang kami temui, bukti bahwa keindahan air terjun ini belum banyak diketahui oleh banyak orang padahal hari itu hari libur. Pikiran saya kembali melayang ke air terjun Bantimurung, salah satu tujuan wisata yang selalu padat dikunjugi pada hari libur.

Ternyata kami harus berjalan lagi sekitar seperempat kilo ke arah air terjun yang semakin memperdengarkan kemegahan percikan airnya. Entah karena harus berjalan melewati rimbun tanaman atau karena rasa penasaran terhadap air terjun yang katanya lain dari yang lain ini yang membuat dada saya berdegup kencang. Dari balik pucuk daun pepohonan, air terjun tiga tingkat ini samar-samar terlihat. Dengan satu kebasan pada ranting pepohonan, keindahan air terjun tiga tingkat menyambut kami yang sedikit letih dengan perjalanan yang cukup panjang.

Namun, tak seorang pun dari kami yang ingin memelihara lebih lama keletihan ini. Cukup semenit buat kami untuk diam mengamati keindahan yang Tuhan buat di daerah ini dimana menit berikutnya kami sudah berkubang dalam guyuran air yang terasa sejuk, bahkan sedikit hangat untuk air terjun yang berada di daerah tinggi. Air terjun ini memiliki tiga tingkatan, tingkatan ketiga, airnya lebih tenang dan keadaannya lebih memungkinkan untuk berenang dengan leluasa dibanding dengan tingkatan pertama dan kedua. Namun tingkat pertama dan kedua yang hampir menyatu ini menjadi tempat favorit pengunjung karena struktur batunya lebih rumit dengan tebing yang sekilas mengingatkan kita akan Grand Canyon di AS. Karena struktur batunya yang unik, harus berhati-hati jika ingin melangkah, salah langkah, bisa terperosok dan berakibat fatal. Tahun 2006 lalu, empat mahasiswa Unhas yang kebetulan kemari, hanyut oleh air bah yang biasa datang tiba-tiba. Karena itu, bila berkunjung ke tempat ini, harus selalu waspada.

Di sekitar air terjun terdapat akar pohon yang menjuntai  ke bawah, kumpulan akar ini kemudian digunakan pengujung untuk berayun-ayun layaknya Tarzan, si manusia hutan. Di tingkatan yang pertama, kami menemukan sebongkah batu berbentuk tempat tidur yang bersambung dengan batu berbentuk bantal kepala. Tak jauh dari situ, kami pun menemukan batu berbentuk telepon model dulu lengkap dengan gagang teleponnya yang juga terbuat dari batu. Dengan dua benda temuan ini, kami sempat bercanda gurau, berpura-pura menggunakan telepon sambil tidur-tiduran di ranjang batu.

Semilir angin yang bertiup diantara kesunyian alam yang bernada kicauan burung adalah suasana yang terasa di kala tubuh kami berendam dalam kubangan alam dengan kejernihan air yang mengalir. Tak ingin rasanya beranjak dari keindahan alam ini namun mentari mulai meninggalkan timur dan berjalan mengarah barat pertanda waktu pulang. Ambun/ Foto: Arfah

 

 

Air terjun Niagara Membeku

Pagi hari pada tanggal 29 Maret 1948 merupakan hari istimewa. Para turis yang mengunjungi air terjun Niagara di perbatasan Amerika-Kanada terheran-heran saat air terjun itu berhenti mengalir.

Mereka menyaksikan air terjun itu mengering, cuma menyisakan bebatuan dengan beberapa genangan air di dasar aliran sungai. Apa yang membuat Niagara mengering? Angin kencang dan bongkahan besar es rupanya telah memblokir aliran Danai Erie yang menjadi sumber air terjun Niagara, sehingga air terjun tersebut menjadi “lenyap”.

Kira-kira tiga puluh jam setelah Niagara berhenti mengalir, bongkahan es tadi pecah, dan selanjutnya aliran kencang air kembali mengalir, dan air terjun Niagara kembali menggemuruh, hingga saat ini. Kebekuan Niagara ini juga pernah terjadi pada tahun 1911, pada saat itu, orang dengan leluasa berjalan hilir mudik di bawah air terjun terbesar du duniai ini.

 

 

 

Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Bantimurung

Terletak dilembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur, sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu, burung dan serangga yang langka. Ditahun 1856-1857 seorang naturalis Inggris yang terkemuka bernama “Alferd Rassell Wallase” menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan ini untuk menikmati dan meneliti 150 spesies PAPILLO ANDROCLES. Selain air terjun dan kupu-kupunya, terdapat juga sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmitnya yang menakjubkan. Berada dalam gua ini serasa berada dalam alam mimpi, inilah mengapa kemudian gua ini disebut gua mimpi.

 

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: