Sulawesi

Warna Warni Sulawesi

Archive for the category “pariwisata”

Tari Paraga dan Pulau Samalona

Pada tanggal 11 November 2013 kami diundang oleh Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan untuk mengikuti acara Jelalah pulau Spermonde 2013. disana kami disuguhi dengan tari Paraga yaitu tari Tradisional Makassar, berikut beberapa gambarnya.

Penari Tari Paraga

Tari Paraga

Tari Pagara 1 2 3

 

sekian dan terima kasih :)

Menyelami Keindahan Bumi Massenrempulu

Enrekang, Bumi Massenrempulu menyimpan keindahan dan keeksotikan wisata yang tersembunyi dibalik kokohnya deretan gunung yang melingkupi. Keindahan inilah yang coba penulis sibak dalam rubrik Jalan-Jalan kali ini.

Menjelang siang, penulis beserta rombongan wartawan peserta Lomba Karya Tulis Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel yang berjumlah 67 orang beranjak meninggalkan Makassar menuju Enrekang dengan menggunakan dua bus. Kabupaten Enrekang merupakan objek penelitian dalam lomba tulis kali ini, dan penulis memilih untuk mengeksplorasi objek-objek wisata serta budaya yang dimiliki oleh Bumi Massenrempulu ini.

Lama perjalanan yang diperkirakan 5 jam  dengan menempuh jarak sekitar 196 km, ternyata ditempuh sedikit lebih lama akibat ban mobil yang pecah ditengah perjalanan. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi antusiasme penulis dalam perjalanan ini. Rasa capek dan mengantuk yang menghinggapi hilang lenyap seketika begitu penulis melihat gerbang Selamat Datang di Kabupaten Enrekang. Setengan jam perjalanan selepas pintu gerbang tersebut penulis disuguhkan dengan keramaian pusat kota Enrekang.

Para peserta kemudian dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan penginapan yang disediakan. Penulis termasuk yang beruntung mendapat penginapan di Hotel Megah Talaga. Betapa tidak, bukan hanya bersih kamar yang disediakan pun tergolong luas dengan fasilitas lengkap, seperti AC, Televisi dan kamar mandi. Hotel yang berada di Jalan P. Hidayat No. 4 inipun tergolong murah dengan kisaran tarif Rp 120 ribu-Rp 150 permalam, tamu akan disediakan coffe break dan sarapan pagi yang sungguh lezat.

Setelah beristirahat sejenak dan membasuh diri, penulis besiap-siap ke rumah jabatan bupati untuk beramah-tamah dengan Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung. Jamuan makan kali ini terasa berbeda, sebab penulis disajikan menu-menu yang menggelitik lidah, salah satunya adalah dangke bakar. Rasa susu pekat yang asin dan gurih begitu aneh terasa apalagi ditambah dengan aromanya yang menusuk hidung. Selepas jamuan, peserta dan panitia kemudian briefing untuk membicarakan persiapan esok. Penulis yang termasuk dalam kelompok wisata dan budaya terdiri atas 17 orang dan dipandu oleh Kepala Dinas Pariwisata, Perhubungan dan Infokom, arfah Rauf. Diputuskan bahwa esok harinya kami akan berkumpul lagi disini untuk kemudian berangkat tepat pukul 8 pagi.

Keesokan harinya, penulis dibangunkan oleh suara adzan subuh yang terdengar sayup dari mushallah hotel. Setelah mandi dan sarapan, penulis kemudian berangkat ke Rujab Bupati. Menjelang pukul 8, seluruh peserta dan pemandu di kelompok kami telah berkumpul, maka dimulailah perjalanan menelusuri objek-objek wisata Kabupaten Enrekang.

Destinasi pertama adalah Gunung Buttu Kabobong atau yang lebih dikenal dengan Gunung Nona yang terletak di Kawasan Bambapuang. Butuh waktu sekitar setengah jam dengan jarak 15 km dari pusat kota untuk mencapainya. Objek wisata ini menjadi ikon Kabupaten Enrekang, karena bentuk gunungnya yang diyakini seperti alat vital wanita. Hamparan gunung hijau dengan bentuk beraneka ragam terhampar dihadapan penulis, mengusik benak untuk mengeksposnya. Udara segar yang tercium pun menambah kedamaian yang terasa, apalagi jika kita menikmati keindahannya dari Villa Bambapuang yang terletak persis dihadapan gunung ini.

Puas menikmati keindahan Gunung Buttu Kabobong dan mengabadikannya dalam beberapa frame foto, kami kemudian beranjak menuju destinasi berikutnya, melihat secara langsung bunker-bunker peningalan Jepang di Kampung Lura. Bunker-bunker yang memiliki ragam bentuk dan fungsi ini tersebar di Gunung Bambapuang dan Lellua. Meski bunker ini berjumlah 24, tetapi kami hanya dapat melihat secara langsung satu bunker akibat medan yang tidak mungkin kami tempuh hanya dalam sekian jam saja. Tidak hanya bunker, di gunung inipun ditemukan berbagai situs peninggalan manusia prasejarah yang diyakini sebagai awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan. Menyaksikan ini semua, terlintas dalam pikiran penulis betapa banyaknya misteri yang tersimpan di balik gunung Enrekang yang menunggu untuk disibak.

Gua Tontonan merupakan destinasi berikutnya. Jalan berliku dan gunung terjal serta jurang menjadi pemandangan yang kami nikmati selama sekitar setengah jam sebelum sampai di tempat tujuan. Bagi yang tidak kuat berkendara, medan ini akan menjadi tantangan tersendiri yang menimbulkan rasa mual dan pusing. Penulis pun sempat sedikit merasakan ‘sensasi’ ini.

Perasaan lega kemudian merayapi begitu diinformasikan bahwa kami akan segera sampai di Gua Tontonan. Jalan masuk ke objek wisata ini adalah melalui Pasar Cakke yang berada di poros jalan Cakke-Baraka. Lebih tepatnya, objek wisata ini terletak di Kampung Tontonan, Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja.

Penulis takjub dengan pemandangan yang terhampar dihadapan begitu turun dari mobil. Kompleks pemakaman situs megalitik yang terdiri dari 12 peti mati yang masih utuh tersusun rapi dalam sebuah ceruk di tebing yang tegak dan tinggi. Entah bagaimana mereka meletakkan peti tersebut disana, sebab tempat penulis berdiri dan gunung tersebut dipisahkan oleh anak sungai Mata’Allo. Tidak hanya situs  megalitik yang luar biasa, tetapi juga tebing gunung yang tegak dan mulus dan kini dihiasi oleh bendera merah putih. Ya..tebing inilah yang dipilih oleh salah satu stasiun televisi swasta sebagai tempat pengibaran bendera yanbg tidak lazim pada 17 Agustus yang lalu. Kini, Pemerintah Kabupaten Enrekang telah mempersiapkan Gua Tontonan sebagai lokasi panjat tebing berstandar internasional dengan medan yang menantang.

Waktu yang menunjukkan pukul 12 siang menghentikan langkah kami untuk menelusuri wisata di Enrekang. Diputuskan setelah makan siang dan beristirahat di Pasar Sudu kami akan melanjutkan eksplorasi ke Pemandian Alam Lewaja. Telah terbayang di benak penulis untuk berwisata kuliner di pasar yang menjadi pusat makanan dan jajanan ole-ole di Enrekang ini.

Target pertama adalah nasu cemba, yaitu sejenis masakan konro di Makassar tetapi dengan taburan daun cemba yang memberi aroma dan citarasa unik. Untuk menikmatinya penulis cukup merogoh kocek Rp 12 ribu di RM Budi Alam. Jika Anda berpantang makan daging, cicipilah sokko beras merah yang disajikan dengan ikan bandeng kering, cukup dengan harga Rp 7 ribu. Setelah kenyang, dilanjutkan dengan mencicipi kopi kalosi yang rasanya sungguh nikmat. Perut kenyang, capek hilang saatnya berburu ole-ole.

Dimulai dengan dangke, susu kerbau beku yang merupakan makanan khas Enrekang telah penulis dapatkan dengan harga Rp 18 ribu perbuah. Dilanjutkan dengan deppa tetakan Rp. 20 ribu perkilo dan varian baje’ Rp 5000 pertujuh buah. Untuk buah salak yang merupakan buah tangan wajib di Enrekang, sebaiknya membeli langsung di Duri Kompleks sebagai penghasil utama dalam perjalanan pulang nanti. Selain harganya yang lebih murah, kesegarannya pun terjamin.

Ole-ole telah ditangan, selanjutnya meneruskan petualangan menelusuri Pemandian alam Lewaja. Cukup berkendara sekitar 10 menit dan menempuh perjalanan 4 km dari pusat kota, penulis telah sampai di objek wisata ini. Sepanjang perjalanan, hidung penulis disajikan dengan bau harum coklat dan vanili yang dijemur yang menandakan betapa kayanya alam daerah ini.

Dengan membayar Rp 5 ribu untuk dewsa dan Rp 4 ribu untuk anak-anak pengunjung dapat menikmati kesegaran air lereng gunung di dua kolam yang berbeda. Kesegaran air gunung ditambah pula kesejukan rimbunan pohon menambah kenikmatan penulis menelusuri pemandian ini. Niat untuk melihat langsung air terjun Lewaja terpatahkan dengan adanya musim kering yang melanda Enrekang saat ini. Akan tetapi, hal tesebut tidak mengurangi keindahan pemandian ini.

Sunset yang tersenyum simpul dibalik pegunungan menandakan saatnya penulis meninggalkan Bumi Massenrempulu ini. Rekam jejak yang penulis dapatkan rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa indah dan misteriusnya wisata dan budaya di kota lereng gunung ini. Jadi mengapa tidak Anda sendiri yang datang dan menyibak serta menikmati keindahan ini…..

 

INBOX :

Arfah Rauf (Kadis Pariwisata, Perhubungan dan Infokom Kabupaten Enrekang)

“Di tahun anggaran mendatang kami akan fokuskan untuk membenahi objek wisata Gua Tontonan dan Pemandian Lewaja. Tapi tidak berarti yang lain kami tidak perhatikan, sebab Enrekang memiliki beragam objek wisata dengan keunikan masing-masing”.

Pesona Niagara di Parangloe

Jika AS memiliki air terjun Niagara yang terkenal akan besarnya maka Parangloe memiliki air terjun bertingkat yang walaupun sama-sama memiliki keindahan tersendiri namun air terjun yang terletak di Gowa ini belum banyak dikenal oleh umum.  

Terbiasa bergelut dengan deadline serta seabrek urusan lainnya yang membuat kami memutuskan untuk melaksanakan wisata di hari libur untuk merefresh diri sebelum kembali bergelut dengan deadline.  Kecamatan Parangloe merupakan tempat yang kami pilih untuk meluluskan tujuan tersebut, melalui informasi dari seorang teman, kami mengetahui bahwa di kecamatan ini terdapat air terjun yang belum terjamah banyak orang dimana keindahannya tidak kalah dengan keindahan air terjun Bantimurung.

Persiapan pun dimulai, hari masih pagi saat kami berangkat menuju lokasi permandian yang oleh penduduk setempat disebut air terjun Bantimurung dua. Memasuki daerah air terjun, petualangan segera dimulai, jalanan yang tadinya mulus berganti dengan jalanan berbatu yang terjal. Beberapa kali saya harus turun dari kendaraan roda dua yang saya tumpangi demi untuk menjaga keeimbangan pengendara yang terlihat agak kesusahan melewati medan yang lumayan berat apalagi jalannya banyak yang menanjak. Di tengah perjalanan saya mengamati rimbun pepohonan yang masih belum terjamah, di sekeliling saya juga terdapat pohon pinus yang dibudidayakan. Kerimbunan ini, menyembunyikan sekawanan kera yang kadang terlihat melintas antara satu dahan ke dahan lainnya.

Dari pengamatan teman saya, di daerah ini terdapat binatang lain selain kera yang mungkin jarang kita temui di tempat wisata lainnya seperti, musang, kupu-kupu, bangau, bebek liar, ular, dan binatang kecil lainnya. Tak jarang tempat ini juga digunakan oleh pemburu untuk memburu babi hutan. Habitat alam sekitar air terjun yang masih perawan membuat  banyak binatang betah untuk tinggal disini. Mudah-mudahan, habitat asli ini tetap terjaga agar keindahan alam kita tetap lestari, ini peringatan buat para penebang liar dan pemburu liar.

Sibuk mengamati kehidupan liar, tak terasa tempat permadian air terjun yang terdiri dari tiga tingkat sudah dekat, terdengar dari suara deras air yang jatuh menimpa batu. Hanya satu kendaraan roda empat yang kami temui, bukti bahwa keindahan air terjun ini belum banyak diketahui oleh banyak orang padahal hari itu hari libur. Pikiran saya kembali melayang ke air terjun Bantimurung, salah satu tujuan wisata yang selalu padat dikunjugi pada hari libur.

Ternyata kami harus berjalan lagi sekitar seperempat kilo ke arah air terjun yang semakin memperdengarkan kemegahan percikan airnya. Entah karena harus berjalan melewati rimbun tanaman atau karena rasa penasaran terhadap air terjun yang katanya lain dari yang lain ini yang membuat dada saya berdegup kencang. Dari balik pucuk daun pepohonan, air terjun tiga tingkat ini samar-samar terlihat. Dengan satu kebasan pada ranting pepohonan, keindahan air terjun tiga tingkat menyambut kami yang sedikit letih dengan perjalanan yang cukup panjang.

Namun, tak seorang pun dari kami yang ingin memelihara lebih lama keletihan ini. Cukup semenit buat kami untuk diam mengamati keindahan yang Tuhan buat di daerah ini dimana menit berikutnya kami sudah berkubang dalam guyuran air yang terasa sejuk, bahkan sedikit hangat untuk air terjun yang berada di daerah tinggi. Air terjun ini memiliki tiga tingkatan, tingkatan ketiga, airnya lebih tenang dan keadaannya lebih memungkinkan untuk berenang dengan leluasa dibanding dengan tingkatan pertama dan kedua. Namun tingkat pertama dan kedua yang hampir menyatu ini menjadi tempat favorit pengunjung karena struktur batunya lebih rumit dengan tebing yang sekilas mengingatkan kita akan Grand Canyon di AS. Karena struktur batunya yang unik, harus berhati-hati jika ingin melangkah, salah langkah, bisa terperosok dan berakibat fatal. Tahun 2006 lalu, empat mahasiswa Unhas yang kebetulan kemari, hanyut oleh air bah yang biasa datang tiba-tiba. Karena itu, bila berkunjung ke tempat ini, harus selalu waspada.

Di sekitar air terjun terdapat akar pohon yang menjuntai  ke bawah, kumpulan akar ini kemudian digunakan pengujung untuk berayun-ayun layaknya Tarzan, si manusia hutan. Di tingkatan yang pertama, kami menemukan sebongkah batu berbentuk tempat tidur yang bersambung dengan batu berbentuk bantal kepala. Tak jauh dari situ, kami pun menemukan batu berbentuk telepon model dulu lengkap dengan gagang teleponnya yang juga terbuat dari batu. Dengan dua benda temuan ini, kami sempat bercanda gurau, berpura-pura menggunakan telepon sambil tidur-tiduran di ranjang batu.

Semilir angin yang bertiup diantara kesunyian alam yang bernada kicauan burung adalah suasana yang terasa di kala tubuh kami berendam dalam kubangan alam dengan kejernihan air yang mengalir. Tak ingin rasanya beranjak dari keindahan alam ini namun mentari mulai meninggalkan timur dan berjalan mengarah barat pertanda waktu pulang. Ambun/ Foto: Arfah

 

 

Air terjun Niagara Membeku

Pagi hari pada tanggal 29 Maret 1948 merupakan hari istimewa. Para turis yang mengunjungi air terjun Niagara di perbatasan Amerika-Kanada terheran-heran saat air terjun itu berhenti mengalir.

Mereka menyaksikan air terjun itu mengering, cuma menyisakan bebatuan dengan beberapa genangan air di dasar aliran sungai. Apa yang membuat Niagara mengering? Angin kencang dan bongkahan besar es rupanya telah memblokir aliran Danai Erie yang menjadi sumber air terjun Niagara, sehingga air terjun tersebut menjadi “lenyap”.

Kira-kira tiga puluh jam setelah Niagara berhenti mengalir, bongkahan es tadi pecah, dan selanjutnya aliran kencang air kembali mengalir, dan air terjun Niagara kembali menggemuruh, hingga saat ini. Kebekuan Niagara ini juga pernah terjadi pada tahun 1911, pada saat itu, orang dengan leluasa berjalan hilir mudik di bawah air terjun terbesar du duniai ini.

 

 

 

Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Bantimurung

Terletak dilembah bukit kapur/karts yang curam dengan vegetasi tropis yang subur, sehingga selain memiliki air terjun yang spektakuler juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu, burung dan serangga yang langka. Ditahun 1856-1857 seorang naturalis Inggris yang terkemuka bernama “Alferd Rassell Wallase” menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan ini untuk menikmati dan meneliti 150 spesies PAPILLO ANDROCLES. Selain air terjun dan kupu-kupunya, terdapat juga sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmitnya yang menakjubkan. Berada dalam gua ini serasa berada dalam alam mimpi, inilah mengapa kemudian gua ini disebut gua mimpi.

 

Berwisata Komplit di Makassar

Makassar sebagai gerbang utama wilayah Indonesia Timur memiliki beragam obyek wisata yang terdiri dari wisata bahari, wisata budaya dan wisata sejarah. Tak ingin ketinggalan dalam tour kali ini, yuk kita jelajahi setiap keindahannya.

Pulau Panambungan

   

   Jika dibandingkan dengan Pulau Kayangan atau Pulau Samalona, nama Pulau Panambungan mungkin tidak begitu familiar di telinga wisatawan. Namun, di sinilah salah satu letak kelebihan pulau yang yang mempunyai luas 170 x 100 m2 ini. Keindahan dan keberadaannya yang belum banyak terjamah, menjadikan pulau ini tetap mempertahankan keasriannya.

Pulau dengan hamparan pasir di sekelilingnya ini dapat dicapai dengan menggunakan boat selama 45 menit. Pulau yang dikelola oleh salah satu hotel besar di Makassar ini mulai  beroperasi sejak tahun 2008 dengan penawaran fasilitas lengkap, mulai dari restoran hingga berbagai aktivitas menarik. Setiap tamu dapat melakukan snorkeling untuk menikmati keindahan coral-coral dan berbagai spesies ikan yang hidup di sekitar pulau. Fasilitas ini sudah termasuk dalam paket dari hotel yang berarti pengunjung dapat menggunakan snorkeling dengan gratis selama berada di Pulau Panambungan.

Bagi pengunjung yang menyukai kegiatan yang memacu adrenalin, dapat mencoba Flying Fox dari ketinggian 10 meter. Bukan hanya itu, pengunjung juga bisa ber-jet ski ria mengelilingi pulau. Untuk jet ski ini, pihak pengelola menyediakan tarif penyewaan mulai dari Rp 125.000 per 15 menit hingga Rp 400.000 untuk pemakaian satu jam.

Untuk masyarakat yang tertarik untuk menghabiskan akhir pekan di Pulau Panambungan, dapat memilih paket akhir pekan yang telah disediakan oleh pihak pengelola, yaitu Rp. 400.000 per orang untuk pemesanan minimal 10 orang dan Rp 300.000 per orang untuk pemesanan minimal 20 orang. Paket ini sudah termasuk biaya transportasi pergi dan pulang dengan menggunakan executive yacht (Kapal Trinisah), juga biaya masuk pulau dan makan siang bagi setiap pengunjung.

Masjid Al-Markaz

Setelah puas berjalan-jalan di hamparan pasir putih, tak ada salahnya Anda mengistirahatkan diri sejenak sembari mengagumi arsitektur bangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami. Masjid ini merupakan tempat ibadah dan pusat pengembangan agama Islam yang terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Masjid Al-Markaz Al-Islami memiliki lima menara yang salah satu diantaranya menjulang hingga ketinggian 87 meter. Di puncak menara yang terselubung dengan batu granit, terpasang loudspeaker yang dirancang oleh tenaga ahli audio dari Jepang agar kumandang adzan dapat terdengar sampai kejauhan.

Masjid Al Markaz yang berdiri 12 Januari 1996 atau 27 Syaban 1416 H, terdiri atas tiga lantai yang terbuat dari batu granit. Ide awal muncul di tahun 1989, dimana waktu itu almarhum Jenderal M. Jusuf sebagai Amirul Hajj menyampaikan gagasan untuk mendirikan mesjid yang monumental di Ujung Pandang (kini Makasar) kepada sejumlah tokoh. Mesjid Al-Markaz dirancang oleh Ir. Ahmad Nu’man sebagai konsultan perencana dan pengawas yang juga merupakan direktur salah satu perusahaan di Bandung.

Arsitektur mesjid ini dikiblatkan pada Mesjid Haram Makka Al Mukarramah dan Mesjid Nabawi Madina Al Munawwarah dengan memasukkan unsur arsitektur Mesjid Katangka, Gowa, dan Rumah Bugis Makassar yaitu tidak memiliki kubah (atap bundar), tetapi kuncup segi empat, meniru kuncup Mesjid Katangka dan Rumah Bugis. Pembangunan mesjid di atas lahan kompleks seluas kurang lebih 10 ha yang terletak di pusat kota ini, memakan biaya sebesar 14 M dengan waktu pengerjaan selama 17 bulan.

Pelabuhan Paotere’

Di bagian utara Kota Makassar terdapat pelabuhan perahu bernama Paotere. Salah satu pelabuhan rakyat warisan tempo dulu yang masih bertahan dan merupakan bukti peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo sejak abad ke-14 saat memberangkatkan sekitar 200 armada Perahu Phinisi ke Malaka. Pelabuhan Paotere sekarang ini masih dipakai sebagai pelabuhan perahu-perahu rakyat, seperti Phinisi dan Lambo, dan juga menjadi pusat niaga nelayan.

Selain aktivitas niaga nelayan yang nampak setiap harinya di pelabuhan ini, tak jarang pula kita temui aktivitas para fotografer yang ingin mengabadikan keindahan Phinisi, berikut para nelayannya dengan background sunset yang merah keemasan. Tentu ini merupakan tawaran yang menarik bagi para wisatawan yang gemar dengan gambar statis. Selesai hunting foto, tentu perut terasa lapar. Jangan khawatir, karena di sekitar Paotere’ berjejer rumah makan yang menyajikan olahan ikan segar hasil tangkapan para nelayan yang dipadu dengan sambal cobe’ khas Makassar.

Benteng Somba Opu

Jika ingin mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan dari bangunan tradisional, Anda dapat mendatangi benteng Somba Opu yang merupakan peninggalan kerajaan Gowa abad XV. Di kompleks ini, Anda akan mendapati replika bangunan tradisional tiap suku yang ada di Sulsel. Selain itu, di sini juga terdapat sebuah benteng yang menjadi daya tarik utama. Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna (1510-1546). Tujuan Sultan Kallonna membangun benteng ini adalah sebagai media pertahanan wilayah Kesultanan Gowa dari serangan Hindia Belanda (VOC) dan Portugis.

Benteng ini berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7-8 meter, luas sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. Ketika dibangun pertama kali pada tahun 1525, bahan dasar pembuatan benteng adalah tanah liat, namun kemudian pada pemerintahan Sultan Gowa XI, benteng ini direnovasi dengan menggunakan batu bata.

Seperti halnya Benteng Fort Rotterdam, bentuk benteng ini mirip penyu jika dilihat dari pemukaan yang lebih tinggi. Di benteng ini pula ditempatkan sebuah meriam yang amat dahsyat, yang pernah dimiliki oleh Indonesia yakni Meriam “Anak Makassar” yang berbobot 9.500 kilogram dengan panjang 6 meter dan berdiameter atau berkaliber 41,5 centimeter.

Jalan Somba Opu

Setelah puas bersnorkeling di Pulau Panambungan, mengintip arsitektur Masjid Al-Markaz, berfoto-foto di Paotere’ dan menelusuri Benteng Somba Opu, kini saatnya, untuk membawakan cendera mata buat keluarga di rumah. Tak perlu khawatir akan benda unik apa yang akan menjadi hadiah kejutan bagi orang tersayang yang menunggu di rumah, karena salah satu jalan di Makassar menyediakan itu semua. Di sepanjang Jalan Somba Opu tersedia berbagai jenis souvenir dan oleh-oleh dengan harga yang cocok untuk kantong Anda.

Makassar terkenal sebagai kota tempat jajanan kue dan kacang.
Selain jajanan-jajanan itu, di Jalan Somba Opu ini juga terdapat toko yang menjual minyak gosok khas Makassar. Tak kalah nikmatnya adalah berbagai manisan dan dodol, mulai dari manisan pala, manisan asam hingga dodol salak. Seluruhnya ini dapat Anda bawa pulang dengan harga tak lebih dari Rp 20.000.

Selain jajanan, Makassar juga terkenal dengan berbagai souvenir yang tentunya ingin Anda bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Mulai dari kerajinan anyaman dari bambu hingga patung kecil berbentuk tarsius dapat Anda temui di sini. Toko-toko di jalan ini tidak hanya menjual makanan, tetapi juga berbagai souvenir hingga perhiasaan emas.

Selain anyaman bambu, juga terdapat untaian kerang yang dibuat menjadi berbagai hiasan. Kerang-kerang ini berasal dari perairan Makassar yang memang terkenal dengan biota lautnya. Anda tak perlu jauh-jauh pergi ke Bunaken untuk memperoleh kerajinan yang sangat indah ini, Anda cukup berjalan menuju toko-toko souvenir, maka kerajinan ini dapat ditemui. Jadi, tunggu apa lagi? Segera langkahkan kaki Anda ke Makassar dan nikmati kesenangannya.

Berlayar Melintasi Panorama Selayar

Terletak di Ujung Selatan Pulau Celebes, tak berarti jauh dari jangkauan wisatawan. Kabupaten Selayar yang mempunyai luas 903,35 km2  menyimpan sejuta keindahan bahkan tercatat sebagai rekor dunia.   

This slideshow requires JavaScript.

 

Taman Nasional Laut Taka Bonerate sebagai Rekor Dunia

Selain keindahan laut Bunaken  yang tersohor sampai ke pelosok dunia, terdapat pula keindahan alam lainnya yang tak kalah terkenal. Taman Nasional Laut (TNL) Taka Bonerate yang mempunyai luas 220.000 hektar ini merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Tak heran jika Taman Laut yang terletak di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pasimaranu dan Kecamatan Pasimasunggu, Kabupaten Selayar ini dijadikan arena rekreasi, penelitian, pendidikan dan pembudidayaan.

TNL Taka Bonerate termasuk salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Kawasan Indonesia Timur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.  280/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992. Di kawasan ini terdapat sekitar 21 pulau, 6 buah diantaranya dihuni oleh penduduk sebanyak kurang lebih 5.101 jiwa. Sebagai karang atol terbesar ketiga di dunia, secara topografi, sebagian besar  pulau tersebut merupakan atol (pulau karang yang berbentuk lingkaran) dengan konfigurasi pasir putih. Atol tersebut dikelilingi oleh air laut berwarna biru pekat yang merupakan perairan yang cukup dalam (+/- 1.500 meter) dan terjal. Pada saat air surut terendah, bagian permukaan terumbu tampak seperti daratan yang membentuk kolam-kolam kecil yang digenangi air. Temperatur udara di kawasan ini berkisar antara 28,5-32 0  celsius dan waktu kunjungan yang paling baik adalah pada bulan April s/d Juni dan Oktober s/d Desember.

Kawasan TNL Taka Bonerate sangat cocok untuk berenang, berjemur (sunbathing), memancing (fishing), berperahu (sailing) dan snorkling. Selain itu, kawasan ini juga sangat cocok untuk menyelam (diving) sehingga pengunjung dapat menikmati panorama alam bawah laut yang mempesona. Di alam bawah laut tersebut, pengunjung juga dapat menyaksikan ratusan jenis terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh serta beraneka ragam biota laut diantaranya; jenis ikan karang yang indah dan ikan konsumsi (kerapu, tenggiri, cakalang dan lain-lain); jenis molusca dari klas gastropoda (lola kerang kepala kambing,triton); jenis klas bivalvia (kima, kerang mutiara, cumi-cumi, dan gurita); jenis penyu (penyu hijau, penyu sisik , penyu tempayam, dan penyu lekang); dan jenis echinodermata (teripang, bintang laut, lili laut, dan bulu babi).

Selain keindahan alam bawah laut, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai jenis flora  yang tumbuh hijau di sepanjang pantai, seperti tumbuhan kelapa, pandan laut, cemara laut, ketapang, dan waru laut. Keindahan Sunset di Taka Bonerate merupakan satu hal yang tidak boleh dilewatkan.

Kejernihan yang Berpadu Putihnya Pantai Baloiya

Selain kaya dengan biota lautnya, Kabupaten Selayar juga terkenal dengan keindahan pantainya. Gugusan pantai yang sebagian besar dihiasi dengan pasir putih itu, membentang dari ujung utara hingga ke selatan kabupaten kepulauan tersebut. Salah satu dari sekian banyak pantai yang menyimpan pesona alam pantai yang menggairahkan, yakni pantai Baloiya, letaknya sekitar 9 km arah selatan ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, Benteng, tepatnya dalam wilayah Kecamatan Bontosikuyu.

Salah satu yang menjadi daya tarik dari tempat ini adalah hamparan pasir putihnya yang bersih yang semakin indah dengan paduan air laut yang jernih dengan pemandangan lalu lintas ikan yang tampak jelas terlihat oleh mata telanjang. Tak hanya ikan yang senang berlalu lalang di sekitar Pantai Bailoya, karena di sekitar pantai tak jarang kita menemui wisatawan yang tak hanya berenang namun juga menyelami kesejukan air Bailoya tanpa terganggu oleh sampah atau kotoran yang sering kita temui di pantai lainnya.

Tak hanya sampai di situ, Baloiya juga menyimpan keindahan lain berupa goa alam dan pulau kecil. Juga tak ketinggalan, karang-karang besar yang berdiri kokoh di beberapa ruas pantai. Tak terlalu sulit untuk ke Baloiya. Sebab jaraknya hanya sekira 9 km dari Kota Benteng serta bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Waktu tempuh dari Benteng, paling lama 30 menit.

 

Baloiya sendiri hingga kini menjadi pilihan rekreasi warga Selayar dan sejumlah warga dari Bulukumba, serta Sinjai. Keindahan alamnya membuat warga Selayar kerap menjadikan Baloiya sebagai tempat rekreasi akhir pekan. Saat hari Minggu, sejak pagi hingga petang, sepanjang pantai Baloiya tak pernah sepi. Selain sejumlah anak muda yang datang untuk sekadar cuci mata atau jalan bersama teman-temannya, ada pula rombongan keluarga yang tak jarang membawa anak balitanya dengan perlengkapan lainnya seperti tikar atau tenda yang dilengkapi dengan varian makanan untuk bersantap di bawah temaram sinar matahari yang menembus sela daun pepohonan.

Hikayat Gong Nekara

The Bronze drum. Bagi orang awam, kalimat ini mungkin sangat asing. Namun saat berkunjung ke Gong Nekara, semua akan menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah gong nekara. Mengunjungi Gong Nekara, bukanlah hal sulit. Pasalnya, tempat nekara ini hanya kira-kira 3 km dari ibukota Selayar, Benteng. Bukan itu saja, letaknya di Matalalang, Kelurahan Bontobangung juga hanya beberapa meter dari jalan raya.

Karena posisinya yang strategis dan terbuka, Gong Nekara ini banyak dikunjungi dan menjadi salah satu objek wisata. Nekara Selayar terbuat dari logam perunggu yang saat ini tersimpan di daerah Bonto Bangun (Matalalang). Nekara ini merupakan nekara yang besar dan indah dengan ukuran tinggi 92 cm dan garis tengah bidang pukul berukuran 126 cm.

Seluruh permukaan bidang atas dihiasi dengan pola hias geometris. Di bagian tengah dihiasi dengan pola hias bintang bersudut 16 dan di tepinya terdapat hiasan berbentuk 4 ekor katak, yang masing-masing panjangnya 20 cm dengan badan bergaris-garis dan mata tersembul ke atas, juga hiasan burung merak sedang berdiri ataupun sedang berjalan.

Menurut informasi dari penduduk setempat, ada dua nekara (Gong), yaitu sebuah di Selayar dan sebuah lagi berada di Cina. Nekara yang ada di Selayar dianggap sebagai suami dan yang ada di Cina sebagai isteri. Hal ini mengingatkan kita pada nekara yang dipuja berpasangan di daerah Birma yang dipersonifikasikan sebagai pasangan suami isteri. Nekara yang di atasnya terdapat hiasan katak berukuran lebih tinggi melambangkan pria, sedangkan yang tidak memakai hiasan katak dan berukuran lebih kecil dan rendah melambangkan wanita. Dengan demikian nampak adanya persamaan nilai simbolis dari pendukung kebudayaan perunggu khususnya nekara di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dari hasil penelitian, Nekara berfungsi sebagai sarana pemanggil hujan, saran untuk upacara-upacara perang, upacara penobatan seorang pemimpin masyarakat, upacara mengusir wabah penyakit dan lain-lain.

 

Petunjuk Tumanurung dalam Tarian Pakarena Gantarang

Jika di Toraja, ditemukan Tari pa’gellu, di Selayar, kita akan menemukan Tari Pakarena Gantarang yang merupakan tarian khas pulau ini. Sesuai dengan namanya, tari ini berasal dari perkampungan bernama Gantarang Lalang Bata. Tak ada catatan yang menjelaskan tentang sejarah terbentuknya tarian ini yang jelas tarian ini pertama kali ditampilkan pada awal abad ke 17.

Kemunculan pertama tarian ini erat kaitannya dengan legenda Tumanurung, seorang bidadari yang turun dari langit untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk-petunjuk dari sang bidadari inilah yang kemudian menjadi simbol dari tiap gerakan sang penari Pakarena Gantarang yang umumnya terdiri dari empat wanita.

Gerakannya menyiratkan simbol dengan nilai artistik tinggi, yang antara lain mengungkapkan undangan atau panggilan, serta penolakan atau penerimaan Raja terhadap aspirasi rakyatnya. Alat musik pengiring dari Tari Pakarena Gantarang adalah, gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tari Pakarena Gantarang mulai populer di Gantarang pada tahun 1603, ketika ditampilkan pada saat penobatan Raja Pangali Patta Raja.  (Sumber: Berbagai Sumber)

 

Beberapa Obyek Wisata Lainnya:

Pa’ba’dilang

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene

Gusung

Gusung adalah salah satu pulau yang dekat dengan pulau terbesar Selayar yaitu pulau Selayar. Pulau yang biasa juga disebut sebagai Pulau Pasi dan memiliki beberapa pantai.

 

Talloiya

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene, terletak di sebelah barat Desa, dekat dengan ujung paling utara Pulau Selayar

Je’neiya

Je’neiya adalah salah satu pantai di bagian barat Pulau Pasi (Gusung)

Appatanah

Appatanah atau ujung tanah merujuk pada ujung paling selatan Pulau Selayar, memiliki beberapa pantai dengan kemilau pasir putih.

Jammeng

Jammeng terletak di sebelah timur Pulau Selayar, dan masuk dalam wilayah Desa Laiyolo Baru, Kec. Bontisikiyu

Rampang-rampangang

Terletak di Desa Bungaiya, Kec. Bontomatene

Sumber: SelayarOnline.com

 

 

 

 

 

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 134 other followers