Sulawesi

Warna Warni Sulawesi

Archive for the category “Budaya”

Menyelami Keindahan Bumi Massenrempulu

Enrekang, Bumi Massenrempulu menyimpan keindahan dan keeksotikan wisata yang tersembunyi dibalik kokohnya deretan gunung yang melingkupi. Keindahan inilah yang coba penulis sibak dalam rubrik Jalan-Jalan kali ini.

Menjelang siang, penulis beserta rombongan wartawan peserta Lomba Karya Tulis Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel yang berjumlah 67 orang beranjak meninggalkan Makassar menuju Enrekang dengan menggunakan dua bus. Kabupaten Enrekang merupakan objek penelitian dalam lomba tulis kali ini, dan penulis memilih untuk mengeksplorasi objek-objek wisata serta budaya yang dimiliki oleh Bumi Massenrempulu ini.

Lama perjalanan yang diperkirakan 5 jam  dengan menempuh jarak sekitar 196 km, ternyata ditempuh sedikit lebih lama akibat ban mobil yang pecah ditengah perjalanan. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi antusiasme penulis dalam perjalanan ini. Rasa capek dan mengantuk yang menghinggapi hilang lenyap seketika begitu penulis melihat gerbang Selamat Datang di Kabupaten Enrekang. Setengan jam perjalanan selepas pintu gerbang tersebut penulis disuguhkan dengan keramaian pusat kota Enrekang.

Para peserta kemudian dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan penginapan yang disediakan. Penulis termasuk yang beruntung mendapat penginapan di Hotel Megah Talaga. Betapa tidak, bukan hanya bersih kamar yang disediakan pun tergolong luas dengan fasilitas lengkap, seperti AC, Televisi dan kamar mandi. Hotel yang berada di Jalan P. Hidayat No. 4 inipun tergolong murah dengan kisaran tarif Rp 120 ribu-Rp 150 permalam, tamu akan disediakan coffe break dan sarapan pagi yang sungguh lezat.

Setelah beristirahat sejenak dan membasuh diri, penulis besiap-siap ke rumah jabatan bupati untuk beramah-tamah dengan Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung. Jamuan makan kali ini terasa berbeda, sebab penulis disajikan menu-menu yang menggelitik lidah, salah satunya adalah dangke bakar. Rasa susu pekat yang asin dan gurih begitu aneh terasa apalagi ditambah dengan aromanya yang menusuk hidung. Selepas jamuan, peserta dan panitia kemudian briefing untuk membicarakan persiapan esok. Penulis yang termasuk dalam kelompok wisata dan budaya terdiri atas 17 orang dan dipandu oleh Kepala Dinas Pariwisata, Perhubungan dan Infokom, arfah Rauf. Diputuskan bahwa esok harinya kami akan berkumpul lagi disini untuk kemudian berangkat tepat pukul 8 pagi.

Keesokan harinya, penulis dibangunkan oleh suara adzan subuh yang terdengar sayup dari mushallah hotel. Setelah mandi dan sarapan, penulis kemudian berangkat ke Rujab Bupati. Menjelang pukul 8, seluruh peserta dan pemandu di kelompok kami telah berkumpul, maka dimulailah perjalanan menelusuri objek-objek wisata Kabupaten Enrekang.

Destinasi pertama adalah Gunung Buttu Kabobong atau yang lebih dikenal dengan Gunung Nona yang terletak di Kawasan Bambapuang. Butuh waktu sekitar setengah jam dengan jarak 15 km dari pusat kota untuk mencapainya. Objek wisata ini menjadi ikon Kabupaten Enrekang, karena bentuk gunungnya yang diyakini seperti alat vital wanita. Hamparan gunung hijau dengan bentuk beraneka ragam terhampar dihadapan penulis, mengusik benak untuk mengeksposnya. Udara segar yang tercium pun menambah kedamaian yang terasa, apalagi jika kita menikmati keindahannya dari Villa Bambapuang yang terletak persis dihadapan gunung ini.

Puas menikmati keindahan Gunung Buttu Kabobong dan mengabadikannya dalam beberapa frame foto, kami kemudian beranjak menuju destinasi berikutnya, melihat secara langsung bunker-bunker peningalan Jepang di Kampung Lura. Bunker-bunker yang memiliki ragam bentuk dan fungsi ini tersebar di Gunung Bambapuang dan Lellua. Meski bunker ini berjumlah 24, tetapi kami hanya dapat melihat secara langsung satu bunker akibat medan yang tidak mungkin kami tempuh hanya dalam sekian jam saja. Tidak hanya bunker, di gunung inipun ditemukan berbagai situs peninggalan manusia prasejarah yang diyakini sebagai awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan. Menyaksikan ini semua, terlintas dalam pikiran penulis betapa banyaknya misteri yang tersimpan di balik gunung Enrekang yang menunggu untuk disibak.

Gua Tontonan merupakan destinasi berikutnya. Jalan berliku dan gunung terjal serta jurang menjadi pemandangan yang kami nikmati selama sekitar setengah jam sebelum sampai di tempat tujuan. Bagi yang tidak kuat berkendara, medan ini akan menjadi tantangan tersendiri yang menimbulkan rasa mual dan pusing. Penulis pun sempat sedikit merasakan ‘sensasi’ ini.

Perasaan lega kemudian merayapi begitu diinformasikan bahwa kami akan segera sampai di Gua Tontonan. Jalan masuk ke objek wisata ini adalah melalui Pasar Cakke yang berada di poros jalan Cakke-Baraka. Lebih tepatnya, objek wisata ini terletak di Kampung Tontonan, Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja.

Penulis takjub dengan pemandangan yang terhampar dihadapan begitu turun dari mobil. Kompleks pemakaman situs megalitik yang terdiri dari 12 peti mati yang masih utuh tersusun rapi dalam sebuah ceruk di tebing yang tegak dan tinggi. Entah bagaimana mereka meletakkan peti tersebut disana, sebab tempat penulis berdiri dan gunung tersebut dipisahkan oleh anak sungai Mata’Allo. Tidak hanya situs  megalitik yang luar biasa, tetapi juga tebing gunung yang tegak dan mulus dan kini dihiasi oleh bendera merah putih. Ya..tebing inilah yang dipilih oleh salah satu stasiun televisi swasta sebagai tempat pengibaran bendera yanbg tidak lazim pada 17 Agustus yang lalu. Kini, Pemerintah Kabupaten Enrekang telah mempersiapkan Gua Tontonan sebagai lokasi panjat tebing berstandar internasional dengan medan yang menantang.

Waktu yang menunjukkan pukul 12 siang menghentikan langkah kami untuk menelusuri wisata di Enrekang. Diputuskan setelah makan siang dan beristirahat di Pasar Sudu kami akan melanjutkan eksplorasi ke Pemandian Alam Lewaja. Telah terbayang di benak penulis untuk berwisata kuliner di pasar yang menjadi pusat makanan dan jajanan ole-ole di Enrekang ini.

Target pertama adalah nasu cemba, yaitu sejenis masakan konro di Makassar tetapi dengan taburan daun cemba yang memberi aroma dan citarasa unik. Untuk menikmatinya penulis cukup merogoh kocek Rp 12 ribu di RM Budi Alam. Jika Anda berpantang makan daging, cicipilah sokko beras merah yang disajikan dengan ikan bandeng kering, cukup dengan harga Rp 7 ribu. Setelah kenyang, dilanjutkan dengan mencicipi kopi kalosi yang rasanya sungguh nikmat. Perut kenyang, capek hilang saatnya berburu ole-ole.

Dimulai dengan dangke, susu kerbau beku yang merupakan makanan khas Enrekang telah penulis dapatkan dengan harga Rp 18 ribu perbuah. Dilanjutkan dengan deppa tetakan Rp. 20 ribu perkilo dan varian baje’ Rp 5000 pertujuh buah. Untuk buah salak yang merupakan buah tangan wajib di Enrekang, sebaiknya membeli langsung di Duri Kompleks sebagai penghasil utama dalam perjalanan pulang nanti. Selain harganya yang lebih murah, kesegarannya pun terjamin.

Ole-ole telah ditangan, selanjutnya meneruskan petualangan menelusuri Pemandian alam Lewaja. Cukup berkendara sekitar 10 menit dan menempuh perjalanan 4 km dari pusat kota, penulis telah sampai di objek wisata ini. Sepanjang perjalanan, hidung penulis disajikan dengan bau harum coklat dan vanili yang dijemur yang menandakan betapa kayanya alam daerah ini.

Dengan membayar Rp 5 ribu untuk dewsa dan Rp 4 ribu untuk anak-anak pengunjung dapat menikmati kesegaran air lereng gunung di dua kolam yang berbeda. Kesegaran air gunung ditambah pula kesejukan rimbunan pohon menambah kenikmatan penulis menelusuri pemandian ini. Niat untuk melihat langsung air terjun Lewaja terpatahkan dengan adanya musim kering yang melanda Enrekang saat ini. Akan tetapi, hal tesebut tidak mengurangi keindahan pemandian ini.

Sunset yang tersenyum simpul dibalik pegunungan menandakan saatnya penulis meninggalkan Bumi Massenrempulu ini. Rekam jejak yang penulis dapatkan rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa indah dan misteriusnya wisata dan budaya di kota lereng gunung ini. Jadi mengapa tidak Anda sendiri yang datang dan menyibak serta menikmati keindahan ini…..

 

INBOX :

Arfah Rauf (Kadis Pariwisata, Perhubungan dan Infokom Kabupaten Enrekang)

“Di tahun anggaran mendatang kami akan fokuskan untuk membenahi objek wisata Gua Tontonan dan Pemandian Lewaja. Tapi tidak berarti yang lain kami tidak perhatikan, sebab Enrekang memiliki beragam objek wisata dengan keunikan masing-masing”.

Perpaduan Wisata Alam dan Budaya di Tanah Sinjai

Kabupaten Sinjai yang berjarak 223 km dari Ibukota Sulawesi Selatan menyimpan budaya historis yang kemudian menjadi alternatif obyek wisata selain wisata alam yang ada di Sinjai, bahkan  Taman Purbakala Batu Pake Gojeng menawarkan keduanya.

 

Benteng Balangnipa

Selain Fort Rotterdam dan Bentang Somba Opu, Benteng Balangnipa adalah salah satu benteng terbesar di Sulawesi Selatan, bentuknya pun hampir sama dengan Fort Rotterdam. Benteng Balangnipa terletak di Kel. Balangnipa, Kec. Sinjai Utara, Kab. Sinjai dengan jarak 1 km dari pusat kota.

Bentuk asli dari Benteng Balangnipa terbuat dari batu gunung yang diikat dengan lumpur dari Sungai Tangka dengan ketebalan dinding  Siwali reppa (setengah depa).  Kemegahan dan kekokohan Benteng Balangnipa dimulai sejak awal abad XVI sekitar tahun 1557 oleh kerajaan Tellulimpoe (Lamatti, Tondong, Bulo-Bulo) dengan bentuk dan struktur bangunan yang menghadap ke Utara dengan pemandangan Sungai Tangka yang bermuara antara Teluk Bone dengan pusat Kota Sinjai.

Benteng ini merupakan saksi sejarah perlawanan kerajaan Tellulimpoe dalam menentang agresi militer jajahan kaum kulit putih dalam sejarah perjuangan  terbesar yang dikenal dengan nama Rumpa’na Mangngara Bombang yang terjadi pada tahun 1859-1961.

Empat buah Bastion (pertahanan) yang membentuk segi empat oval merupakan salah satu alat perang yang digunakan oleh kerajan Tellulimpoe dalam menolak serangan Belanda. Namun ketidakseimbangan kekuatan dalam hal persenjataan menyebabkan Benteng Balangnipa berhasil direbut oleh pasukan Belanda pada tahun 1859.

Setelah Belanda berkuasa di wilayah persekutuan kerajaan Tellulimpoe, Benteng Balangnipa dijadikan sebagai markas pertahanan bagi Belanda untuk membendung serangan pribumi persekutuan kerajaan Telllulimpoe. Sebuah meriam perunggu yang panjangnya 96 cm merupakan jejak peninggalan Belanda di benteng ini.

Taman Purbakala Batu Pake Gojeng

       

Salah satu primadona wisata di Kabupaten Sinjai adalah taman purbakala Batu Pake Gojeng yang terletak di ketinggian 50-96 meter diatas permukaan laut, tepatnya di Kel. Biringere, Kec. Sinjai Utara, sekitar 2 km dari pusat kota Sinjai.

Batu Pake Gojeng merupakan batu pahatan yang berada di Gojeng dan dipercayai sebagai batu bertuah bagi masyarakat setempat. Puncak taman purbakala Batu Pake Gojeng merupakan markas pertahanan Jepang dan tempat pengintaian terhadap kapal laut yang melintasi teluk Bone maupun pesawat terbang sekutu.

 

Dari ketinggian ini, Anda bisa memandang jauh deretan Pulau Sembilan dengan jejeran hutan bakau Tongke-Tongke yang rimbun serta laut biru yang menghampar di atas terumbu karang Larea-rea.

Selain memiliki potensi objek wisata alam, Benteng Balangnipa juga mempunyai nilai histories tersendiri yang kaya akan warisan budaya khususnya bidang arkeologi. Pada tahun 1982, oleh Rescue Excavation, ditemukan berbagai jenis benda cagar budaya (BCB) seperti keramik, tembikar, sejumlah kecil fragment keramik blue underglass serta gigi buvidae yang diperkirakan dari zaman Dinasti Ming, fosil kayu dan peti mayat.

Masing-masing peninggalan ini, mewakili peninggalan pada zamannya masing-masing. Peninggalan Megalitik terbukti dengan adanya batu berlubang dengan diameter yang variatif antara 15-70 cm yang tersusun secara acak dan dikelilingi oleh sejumlah lubang kecil dan diapit oleh dua buah lubang besar. Terdapat pula bongkahan alami yang memiliki ukuran  yang bervariasi serta batu berpahat persegi yang merupakan titik pusat dari variasi batu berpahat lainnya dimana yang berukuran paling besar dipercayai sebagai makam raja-raja keturunan Raja Batu Pake Gojeng yang pertama.

Bukti peninggalan arkeologis ini telah dirapikan dan dijejer sepanjang jalan setapak sebanyak 120 buah anak tangga menuju bukit dan dijadikan lokasi obyek daya tarik wisata baik alam maupun budaya. Di dalam areal situs, berbagai pohon dapat kita jumpai seperti cemara (Casuarinas sp), kalumpang (Stercuilla), pohon cenrana yang sudah tua, kelapa (Cocos nucifera), kamboja (Plumera accuminata), akasia (Casia sp) serta bougenville (Bougenvillea spectabilis). Selain flora, terdapat pula berbagai jenis fauna khususnya bangsa burung seperti burung rajawali Sumatera, burung beo, burung nuri Kalimantan, burung kutilang, serta jenis burung lainnya.

Dalam mendukung kepariwisataan di lokasi ini pemerintah setempat telah melengkapi dengan sarana pendukung (caravanning sites) seperti renovasi rumah adat taman purbakala serta fasilitas lainnya seperti permandian yang telah tua yang diyakini sebagai tempat permandian para raja, refreshing kid dengan taman bermain anak-anak seperti ayunan dan luncuran.

Kampung Tradisional Karampuang

Kampung tradisional Karampuang terletak di desa Tompobulu Kec. Bulupoddo, kurang lebih 31 km dari pusat kota Sinjai, Karampuang merupakan asimilasi dari nama tempat dimana digambarkan sebagai pertemuan antara Karaeng (suku Makasar) dan Puang (suku Bugis). Sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama Karaeng Puang dan orang menyebutnya Karampuang.

Karampuang sendiri merupakan nama sebuah dusun/perkampungan tua yang tetap melestarikan kebudayaannya. Upacara-upacara adat ritual kuno tetap bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Walaupun saat ini teknologi dan pola hidup modern mulai merambah kawasan adat ini.

Dalam kawasan adat akan dijumpai dua buah rumah adat dengan berbagai simbol keberadaan sejarah bagi masyarakat Sinjai. Selain rumah adat akan ditemukan pula berbagai benda yang bernilai sejarah tinggi seperti Goa Cucukan yang berisi batu bertulis mirip prasasti, sumur adat, dolmen kuburan-kuburan kuno dan sumur Karampuang yang besar. Di kawasan ini pula diadakan pesta adat terbesar di Sinjai yaitu Mappogau Sihanua dimana di pesta ini dapat kita temui para pemuka adat Karampuang, aparatur pemerintah baik tingkat daerah maupun propinsi dan masyarakat umum.

Sebagai rumah adat yang bersimbol wanita, maka penempatan tangga rumah adat Karampuang terletak di tengah yang melambangkan rahim wanita yang merupakan tempat keluarnya bayi. Tangga ini mempunyai  pintu  yang disebut dengan batu lappa dengan pemberat dari batu  yang bundar yang menyimbolkan bagian intim wanita. Karena posisi pintu yang rata dengan lantai rumah maka untuk membukanya haruslah menolak ke atas untuk menggeser  pemberat batu tersebut.

Posisi dapur diletakkan sejajar posisi pintu yang memiliki simbol sebagai buah dada wanita  yang merupakan sumber kehidupan. Sesuai dengan buah dada wanita, dapur pada rumah adat Karampuang juga berjumlah dua buah.

Untuk simbol telinga wanita, dilengkapi dengan bate-bate kiri dan bate-bate kanan dengan hiasan ukiran kayu yang bermakna anting-anting sedang bagian bahu digambarkan dengan sonrong  yakni tangga yang ditinggikan dan diletakkan di depan rumah dan belakang yang difungsikan sebagai tempat tinggal penghuni. Sebagai tangan yang berfungsi untuk menggenggam maka sonrong bagian belakang rumah ditempatkan semua arajang yakni benda sakral, pelengkap adat.

Pantai Ujung Kupang

 

Terletak di Kecamatan Sinjai Timur sekitar 15 Km dari pusat kota Sinjai. Ujung kupang merupakan salah satu objek wisata yang berpantai pasir putih selain yang anda dapat jumpai di gugusan pulau sembilan. Objek ini juga bersebelahan langsung dengan gugusan pulau-pulau sembilan dan hutan bakau Tongke-Tongke.

Jejak pelabuhan  yang masih tertinggal di kawasan ini masih ada, seperti batu karang atau batu cadas di pinggir laut merupakan bekas pelabuhan dulu. Keindahan panorama alam ini tak luput dari sebuah bentukan alam dan keindahan biota laut yang penuh ragam warna dan bentuk.

Di tempat ini setiap tahunnya diadakan pesta rakyat Ma’rimpa Salo dimana kita dapat menyaksikan atraksi lomba perahu tradisional yang sarat akan makna syukur atas keberhasilan panen baik di darat maupun di laut. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk penangkapan ikan dengan cara menghalau ikan ke muara sungai dengan menggunakan ratusan perahu tradisional yang dilengkapi dengan jaring tradisional.

Air Terjun Tujuh Tingkat, Lembang Saukang   

           

 

Air terjun ini dinamakan air terjun tujuh tingkat karena memang memiliki keunikan tujuh tingkat dengan besar debit air dari atas yang berirama jatuh berulangkali sampai tujuh kali. Air terjun ini terletak di Desa Lembang Saukang Kec. Tellulimpoe sekitar 45 Km dari pusat kota Sinjai. Sesampainya di tempat ini, Anda akan disambut oleh riak-riak air yang pecah pada tujuh undakan besar yang dialiri oleh air bening nan segar dari hulu ke muara. Keindahan serta percikan air yang seirama dengan suara air terjun dapat Anda nikmati di atas jembatan gantung yang  terletak pas di depan air terjun dengan ketinggian 7 meter dari sungai dan panjang 30 meter.

Selain menikmati keindahan dan kesegaran air terjun, Anda juga dapat beragrowisata di kawasan ini. Durian ottong, rambutan, kedondong, jambu mete dan lengkeng adalah pilihan buah-buahan yang dapat Anda petik langsung dari pohonnya. Selain itu, contoh tanaman lain seperti coklat, vanili, merica bahkan petai akan menjadi pemandangan sepanjang jalan menuju air terjun tujuh tingkat.  Di sekitar kawasan air terjun ini terdapat vila bagi Anda yang ingin lebih lama menikmati keindahan alam air terjun tujuh tingkat Lembang Saukang.

Jalan jalan ke Makam Sultan Hasanuddin di Gowa

berikut ini bebrapa foto makam Sultan Hasanuddin di Gowa

IMG_0711

IMG_0709

IMG_0707

IMG_0730

IMG_0729

IMG_0728

IMG_0726

IMG_0724

IMG_0722

IMG_0719

IMG_0716

IMG_0713

IMG_0712

Suasana Ramdhan di Kawasan Pecinan

Berikut ini beberapa foto susana ramadhan di kawasan pecinan

 

AR010633

AR010632

AR010629

AR010648

AR010645

AR010644

AR010643

AR010642

AR010639

AR010638

AR010637

AR010636

AR010635

AR010634

Jalan jalan ke Kota Palopo Sulawesi Selatan

Berikut ini bebearapa foto Jalan jalan di Kota Palopo

Palopo 2

Kapurung Makanan Khas Palopo

IMG_0327

IMG_0247

IMG_0166

IMG_0102

IMG_0079

IMG_0057

IMG_0040

IMG_0038

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 134 other followers